KENANGAN TERINDAH
- Rabu, 15 Mei 2024
- adminweb
- 2 komentar
Ini cerita tentang aku. Aku terlahir dari keluarga sederhana, dengan ayah dan ibu yang sangat menyayangiku beserta kakak-kakak perempuan yang menyayangiku, walaupun setiap saat tiada hari tanpa bertengkar mengenahi hal kecil. Dari kecil mereka mendidikku dengan penuh cinta dan kasih sayang.
Dari kecil aku lebih dekat dengan ayah ketimbang ibu, aku menangis ketika ayah berangkat kerja atau pergi keluar, namun berbeda ketika ibuku pamit untuk pergi kerja dan kuliah disitu aku nangis hanya sebentar, supaya ayah mengajakku jalan-jalan :D. Ketika bangun tidur yang aku cari ayah bukan ibu, karena setiap pagi aku dimandikan, disuapi, dan diantar sekolah oleh ayahku, itu rutinitas kami dipagi hari, berlangsung sampai aku duduk dibangku kelas 1 Sekolah Dasar.
Aku selalu meminta jajan, baju, dan mainan setiap ayah pergi keluar. Entah ayah ke kantor atau ke tempat lain, setiap ayah pulang aku sambut dengan senyuman bahagia melihatkan gigiku yang mungil, dan melihat tentengan yang dibawa ayah. Bahagiaku sangat sederhana ketika ayah pulang tak lupa membawa buah tangan untukku.
Namun, semua berubah drastis ketika ayah pergi meninggalkanku dan keluargaku untuk selama-lamanya. Masih teringat jelas diingatanku ketika ayah mengeluh dadanya sakit, dan tidak bisa ditahan. Ketika itu ayah pamit untuk pergi kerumah sakit. Namun pada hari itu ibu mengabari keluarga bahwa ayah mengidap sakit jantung dan ditahan untuk menginap dirumah sakit umum yang berada di kota Balikpapan. Sontak aku kaget dan menangis dalam diam mengingat ayah rajin olahraga dan makan-makanan yang sehat. Aku dan kakak bergegas kerumah sakit untuk menjenguk ayah. Melihat kondisi ayah diruang ICU saat itu seperti duniaku runtuh seketika, ada selang dimulut, dan dibadannya ada berbagai macam alat. saat itu aku Cuma bisa melihatnya di jendela kecil yang ada atas Kasur ayah, aku teriak memanggil namanya untuk menyemangatinya kalau semua akan baik-baik saja, disitu ayah berusaha melambaikan tangannya ke aku.
Beberapa hari kemudian kondisi ayah mulai membaik dan dipindahkan ke ruangan yang bisa dijenguk.dan aku tidak bisa full menunggu ayah di rumah sakit, sesekali pulang sekolah diantar keluarga untuk menjenguk ayah dan menceritakan semua yang aku alami hari demi hari. Tiba saatnya ayah diperbolehkan pulang kerumah. Pas mendengar berita Dimana ayah diperbolehkan pulang aku sangat Bahagia sekali dan bisa menjaga ayah dirumah. Selama seminggu aku dan keluargaku bergantian menjaga ayah dirumah, dan tiba-tiba ayah drop ibu langsung minta tolong tetangga agar diantar kerumah sakit, disitu aku bingung, tatapan kosong, kenapa ayah bisa drop lagi? Sampai Dimana aku berfikir apa salahku ya ayah drop? Apa karena aku tidak mengerjakan PR? Atau karena aku tidak jadi anak baik? Semua fikiran itu langsung dijawab ibu bahwa memang takdirnya ayah dan jangan berfikir seperti itu.
Pada pukul 01.00 WITA, aku dibangunkan oleh nenek dan digendong untuk menginap di rumah sahabatku. Sayup-sayup aku melihat rumah yang bersih digelar ambal, aku berfikir atau nanti ada arisan ya sampai rumah dibersihkan. Pagi pun tiba, aku dibangunkan oleh kakak dan sahabatku supaya mandi dan Bersiap-siap untuk pulang. Sesampainya dirumah kulihat banyak keluarga dari ibu datang, mereka menangis ketika datang dan memeluk ibu, aku, dan kakakku. Mereka bilang yang kuat ya.. sabar semua sudah jalannya, dan ini yang terbaik buat ayah. Aku belum paham yang mereka bilang. Ketika aku memasuki rumah aku baru paham apa yang mereka bilang ke aku, ibu, dan kakakku, seketika aku membeku melihat ayah terbaring kaku dihadapanku dan muka yang pucat. Aku nangis sejadi-jadinya disamping ayah dan berkata “ayah ayo bangun main lagi sama aku” disitu aku dipeluk oleh ibu, kita berdua menangis sejadi-jadinya.
Kemudian aku, ibu,kakak diajak om untuk melihat makam ayah yang saat ini menjadi tempat tinggalnya. Sesampainya dimakan aku membaca tulisan dibatu nisan yang tanahnya masih basah, disitu terdapat nama ayahku, tanggal lahirnya dan tanggal wafat. Aku menangis dalam diam, ternyata memang benar ayahku sudah tiada. Aku kehilangan sosok ayah yang memberikan kehangatan dan kasih sayang yang tulus buat aku dan kakakku.
Aku merasa duniaku hancur dan saat itu aku kehilangan arah tujuan hidup, harapanku musnah mengingat cita-cita dan rencana yang belum bisa kita wujudkan. Namun, kini ayah sudah lebih dulu meninggalkanku dan keluargaku untuk selama-lamanya. Dan disana ayah sudah tidak merasakan kesakitan lagi????. Semasa ayah hidup itu termasuk kenangan terindah.
Penulis: Lisa
2 Komentar
"Bagus"