A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: Division by zero

Filename: public/Readmore.php

Line Number: 37

Backtrace:

File: /var/www/vhosts/smkn2balikpapan.sch.id/httpdocs/website/application/controllers/public/Readmore.php
Line: 37
Function: _error_handler

File: /var/www/vhosts/smkn2balikpapan.sch.id/httpdocs/website/index.php
Line: 315
Function: require_once

Jodoh di Depan Mata Berkat Usaha | SMK Negeri 2 Balikpapan

SMK Negeri 2 Balikpapan

Jl. Soekarno Hatta Gn. Samarinda Balikpapan

"Tiada Hari Tanpa Prestasi"

Jodoh di Depan Mata Berkat Usaha

Selasa, 27 September 2022 ~ Oleh kesiswaan ~ Dilihat 152 Kali

Oleh Pena Biru

 Jalan hidup yang dilalui oleh Deril lima tahun terakhir ini sungguh jauh dari kumpulan cita-cita yang pernah disebutkanya semasa usia pendidikan dasar. Saat pertama ditanya oleh gurunya di kelas IV, Deril menyebut bercita-cita sebagai pengusaha angkot. Di kelas V, Deril bercita-cita ingin menjadi polisi saat ditanya oleh gurunya. Di kelas VI, Deril bercita-cita ingin menjadi pilot saat bersenda gurau dengan temannya mabar (makan bareng) di kantin sekolah. Sambil menyeruput kopi hangat di sore hari yang teduh itu, Deril senyum-senyum sendiri mengingat kenangan membahas cita-cita itu semua saat usia pendidikan dasar. Semua meleset. Namun, kehidupannya dengan profesi yang dijalani saat ini bisa dikata berjalan sesuai harapan kebanyakan anak Adam, bisa membahagiakan kedua orang tuanya.

Selepas pendidikan dasar, berbekal nilai rapot yang rata-rata tujuh, Deril bisa diterima di sekolah negeri terdekat dengan tempat tinggalnya. Orang tua Deril menggunakan fasilitas pendidikan gratis yang disediakan oleh pemerintah daerah setempat. Bukan karena kebetulan, namun penghasilan kerja dari orang tuanya lah yang memang cocok bila Deril sekolah di tempat itu. Tidak seberuntung segelintir anak yang orang tuanya bekerja di sektor Migas, selepas pendidikan dasar, biasa dikirim ke sekolah menengah pertama yang favorit, berasrama, plus bimbingan imtaq dan iptek yang terprogram.

Selama di pendidikan menengah pertama, Deril merasakan tidak ada yang menonjol sama sekali dengan nilai rapotnya pada semua mata pelajaran. Berada dua digit diatas ketuntasan minimal pada semua bidang mata pelajaran di sekolah sudah puas baginya. Orang tuanya pun tidak pernah menuntut lebih, yang penting setiap hari berangkat ke sekolah- kecuali tanggal merah. Pesan lanjutan orang tuanya, hormati guru karena mereka adalah orang tua di sekolah. Dari semua hasil nilai rapot yang dimiliki sampai menjelang kelulusan, belum ada tanda-tanda yang mengarah cita-citanya selama di pendidikan dasar akan terwujud.

Tiga tahun berlalu dari pendidikan menengah pertama, hanya ada dua kenangan menarik yang Deril ingat. Pertama, Deril mendapatkan penghargaan dari sekolah sebagai siswa paling gigih selama 3 tahun belajar. Indikatornya terdiri dari tidak pernah sakit selama menempuh pendidikan dan selalu datang 30 menit sebelum bel masuk berbunyi. Hal ini didapatkan sekolah mudah saja karena beruntung di setiap kelas sudah ada fasilitas absen sidik jari sehingga jam kedatangan dan kepulangan siswa selalu terpantau.

Setiap pembagian rapot akhir semester, wali kelas mendapat rekapannya dari tim bimbingan konseling sekolah. Selain mendapatkan nilai pengetahuan dan keterampilan, orang tua juga mendapatkan jurnal kedisiplinan siswa. Deril pernah gunakan penghargaan ini sebagai bahan mendapatkan rekomendasi untuk memenuhi persyaratan saat mendaftar di salah satu madrasah favorit yang dikelola oleh pemerintah yang letaknya di kota penyangga Ibu Kota Negara melalui jalur tes. Sangat mengejutkan sekali, Deril berhasil lulus tes namun tidak jadi diambil karena biaya orang tua tak mungkin mampu untuk menopang.

Kenangan kedua, Deril teringat sekali dengan teman satu kelasnya bernama Asfina. Kenangan paling menonjol dari Asfina adalah sosok yang tegas, juara akademik di kelas dan peduli sekali dengan teman. Selepas pendidikan menengah pertama, Asfina didukung orang tuanya melanjutkan studi kejuruan di luar pulau kelahirannya. Konon katanya termasuk sekolah favorit meskipun swasta. Favorit karena pendaftaran siswa baru sudah tutup saat sekolah negeri baru membukannya. Favorit juga karena program-programnya mampu menumbuhkan jiwa kreatifitas peserta didiknya. Sejak lulus dari sekolah yang sama dengan Deril di pendidikan menengah pertama, Asfina tidak pernah lagi berkomunikasi denganya. Deril masih ingat senyum terakhirnya yang terasa ko spesial sekali ketika berpapasan pulang dari pengumuman kelulusan. Sembari masuk pintu belakang mobil pribadi sang ayah, Asfira melayangkan senyuman yang memperlihatkan cekungan pipi. Senyuman itu melayang dan mengenai hati Deril.

Deril memilih masuk sekolah kejuruan juga selepas pendidikan menengah pertama. Program keahlian multimedia. Agak nekat Deril memilih jurusan itu. Keinginan bisa cepat bekerja selepas lulus mendorong Deril untuk berani memilih program keahlian yang beraroma teknologi informasi itu dengan semua risikonya. Tabungan logam mulia yang sudah dimiliki oleh orang tuanya dan tersimpan di bekas kaleng kue wafer itu, dibongkar juga akhirnya.

“Deril, bapak dan ibu menabung ini semua untuk kepentingan pendidikan kamu, karena jurusan yang kamu pilih meminta orang tua mendukung keberadaan sarana belajar bagi anak, maka sudah saatnya tabungan ini bapak bongkar”, ungkap Bapak Deril dengan kerut kening yang menonjol karena masih kesusahan membongkar kaleng tua itu tempat penyimpanan logam mulia.

Bermodal tabungan emas itu, Deril mendapat kepercayaan orang tua berupa alat belajar terdiri dari laptop dan kamera DSLR beserta kaki penyangganya (tripod). Kepercayaan yang tidak Deril sia-siakan sekali. Deril sangat menyadari bahwa meski bukan dari keluarga kaya namun orang tuanya tidak pernah menelantarkannya sejak kecil. Bisa tumbuh besar hingga masuk sekolah kejuruan adalah bukti nyata bahwa orang tua sangat menyayanginya. Kalau toh pernah ditegur dengan tegas dengan orang tua, Deril merasa masih terus dinafkahi dengan baik dan tidak pernah sekalipun menerima nasib makan batu atau kotoran.

Sungguh sayang sekali orang tua ku, aku bertekad akan membalas semua kebaikannya, selepas lulus sekolah kejuruan paling lama 3 tahun, insya Allah, guman Deril dalam hati dan sempat meneteskan air mata haru namun buru-buru diusap karena adiknya masuk menanyakan kondisinya.

Selepas sekolah kejuruan, Deril ikut bekerja dengan pengusaha percetakan spanduk billboard. Itu, spanduk raksasa yang sering nongol di setiap sudut kota. Pemesannya biasa, produk-produk komersil dan akan semakin ramai saat musim politik. Siapa sangka, dalam waktu 5 tahun, Deril telah memiliki usahanya sendiri berkat dukungan pengusaha terdahulu tempat bekerja, belajar, dan praktek langsung. Pengusaha tempat Deril menimba pengalaman memilih untuk pulang ke kota kelahiran dan menikmati usia pensiun dengan memilih berkebun. Deril mendapat kepercayaan untuk melanjutkan usaha spanduk billboard itu. Siapa sangka di tangan Deril, usaha itu sudah merambah ke luar provinsi dan kota-kota besar. Ditambah lagi usaha pendamping yang sudah dirintisnya dua tahun terakhir, membuat penginapan (guest host). Usaha itu semua mampu menopang ekonomi Deril dan Orang Tuanya hingga hidup layak seperti sekarang dan telah berhasil berangkat ibadah haji tahun lalu bersama.

Belum habis kopi Deril diseruput dan mengenang masa perjalanan hidupnya, datang seseorang dengan hijab yang anggun turun dari mobil big suv menghampiri dirinya dengan senyuman yang santun. Senyum itu, guman Deril.

“Izin mas, saya ingin pesan pasang iklan di billbord bisa bertemu kah dengan bagian pemasarannya?” tanya wanita itu dengan lembut. Deril masih belum bisa menjawab karena kikuk dengan kenyataan yang sedang dihadapi, Apa dia Asfina ya, tanya Deril dalam hati sambil menahan hati yang berdetak kencang.

 

***

KOMENTARI TULISAN INI

  1. TULISAN TERKAIT