A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: Division by zero

Filename: public/Readmore.php

Line Number: 37

Backtrace:

File: /var/www/vhosts/smkn2balikpapan.sch.id/httpdocs/website/application/controllers/public/Readmore.php
Line: 37
Function: _error_handler

File: /var/www/vhosts/smkn2balikpapan.sch.id/httpdocs/website/index.php
Line: 315
Function: require_once

Kelabu | SMK Negeri 2 Balikpapan

SMK Negeri 2 Balikpapan

Jl. Soekarno Hatta Gn. Samarinda III Balikpapan

"Tiada Hari Tanpa Prestasi"

Kelabu

Senin, 04 Oktober 2021 ~ Oleh picWEB3 ~ Dilihat 221 Kali

Oleh Aisyah

 

   Bagi sebagian anak yang seumuran denganku kebanyakan menghabiskan waktunya dengan hangout bersama teman-teman, foya-foya, ngamer, dan ribuan kesenangan lainnya. Berlagak seperti jagoan dan sok kaya di luar, sementara kenyataannya mendapatkan uang jajan hasil ngebentak orang tua. Sedangkan aku, jangankan untuk hangout, untuk pergi kerja kelompok saja harus disidang habis-habisan dengan orang tua dulu. Yeah that’s right, I have a strict parent. Muak sih terkadang, sering sekali diejek anak ketiak mamak oleh teman-teman. Anak remaja mana sih yang mau dikekang orang tua? Pasti tidak ada, kan?

     Namaku Aisyah, orang-orang biasa memanggilku Bocen. Aku tidak tahu apa artinya. Sejujurnya aku tidak terlalu suka dipanggil Aisyah. Terlalu formal didengarnya. Aku terlahir sebagai anak bungsu dari empat bersaudara. Kakak pertamaku adalah seorang laki–laki yang sudah berkerja dan berstatus duda dengan dua anak. Kakakku yang kedua juga laki–laki yang sudah berkerja dan mempunyai istri, tetapi belum memiliki keturunan. Sedangkan kakakku yang ketiga adalah perempuan yang sudah bersuami dan belum punya keturunan, dan aku adalah anak terakhir.

     Jujur saja, keluargaku bukanlah keluarga yang begitu harmonis. Mamaku janda, Mama sama Ayah bercerai setelah aku lahir. Sounds bad, right? Seperti aku ini lahir sebagai pembawa sial. Aku punya Daddy Issues sedari kecil, bahkan aku gak tahu bagaimana rasanya punya seorang Ayah. Dulu, sewaktu masih kecil, aku dijaga oleh kakakku secara bergantian, karena kakakku masih sekolah dan my Mom busy at work. Aneh ya, kedengerannya. Aku punya Strict Parent tetapi kayak anak tak terurus oleh orang tua.

     Saat masih SD, aku sering banget dibully. Aku tidak punya teman seorang pun. Aku selalu dijauhi oleh mereka, padahal aku merasa tak punya salah ataupun utang kepada mereka. Wajar saja, sih, namanya juga masih 'bocil’, jadi bertemannya masih dengan cara geng-gengan begitu. Kalau sekarang kita biasa menyebutnya circle. Aku adalah anak yang introvert dan memang tidak mudah bergaul dengan orang sekitar. Kalaupun tak ada yang ingin berteman denganku, aku juga tidak terlalu ambil pusing. Aku merasa masih mampu sendiri. Hingga akhirnya, aku mulai memasuki Sekolah Menengah Pertama (SMP). Wah, ini adalah masa-masa dimulainya kenakalanku.

     Aku berhasil masuk ke SMP pilihan orang tuaku. Pasti banyak yang mengira ini adalah SMP pilihanku, dan semuanya terasa baik-baik saja selama PLS atau Pengenalan Lingkungan Sekolah. Tak ada perbedaan antara saat Aku SD, sama-sama toxic. But, I'm used to it. Akhirnya PLS usai, dan semua siswa mencari kelasnya masing-masing. Aku mendapatkan kelas di VIIC. Kelasku ini selalu di cap jelek oleh guru-guru. Entah karena berisik saat pelajaran, jarang mengumpulkan tugas, atau memang dari beberapa siswanya yang sering sekali membuat masalah.

     Masih sama seperti sebelumnya saat di SMP, berteman dengan cara circle. Aku anak yang tertutup, apa daya? Mendapatkan satu teman saja sudah bersyukur. Saat pemilihan ekskul, aku lebih memilih mengikuti seni tari modern atau dance. Bagaimanapun buruknya diriku, aku masih punya bakat di bidang ini. Aku masuk ke suatu grup dance di sekolah dan mulai sering tampil di sekolah maupun ikut lomba di luar sekolah. Dari ekskul ini, aku mulai dikenal banyak siswa di sekolah dan pada akhirnya aku punya circle bersama teman-teman dari kelas kelas lain, selain dari teman satu grub dance.

     Kelas VII sudah usai, dan aku naik ke kelas VIII. Masuk kelas VIIIG dengan wali kelas yang galak. Setiap pelajaran Ibu ini, terasa sedang di ospek, bukan lagi belajar rasanya. "Ah, mantap", batinku. Masih dengan circle yang sama, tetapi sudah mulai terpisah-pisah, karena ada yang punya teman baru. Wajar saja, namanya naik kelas, pasti siswa-siswanya diacak kembali untuk pembagian kelas. Sudah setengah semester aku menjalani semuanya secara baik-baik. Tiba-tiba, Mamaku menyampaikan padaku jika ada yang berusaha mendekatinya. Aku hanya mengiyakan saja agar Mama merasa senang, karena aku tidak mau berpikir hal-hal buruk yang mungkin terjadi dengan keluargaku jika Mama menikah lagi.

     Baru beberapa hari Mama cerita jika ada yang mau dengannya, tiba-tiba saja lelaki itu sudah ke rumahku dan meminta izin kepada anak-anaknya Mama untuk menikahinya. Kakakku setuju-setuju saja, tetapi setelah aku melihat wajah lelaki itu, seperti Dia tidak merasa nyaman dengan perasaannya. Namun, tak kuhiraukan perasaanku waktu itu, yang terpenting bagiku adalah Mama bisa bahagia.

     Akhirnya, Mama dan lelaki yang kupanggil Om itu sudah resmi menikah, dan resmi menjadi Ayah tiriku. Awalnya aku mikir ini akan menjadi sesuatu yang baik buat keluargaku, ternyata justru menjadi awal malapetaka buat keluarga karena sudah membiarkan setan masuk ke dalam anggota keluargaku. Setelah beberapa bulan pernikahan Mama dan Ayah tiriku itu, masih biasa saja kondisinya. Namun, karena aku punya Daddy Issues dari kecil sehingga sulit untuk beradaptasi dengan Ayah tiriku ini. Bahkan aku takut hanya untuk sekadar ngobrol dengannya. Jangankan untruk ngobrol, berpapasan saat mau ke kamar mandi saja aku buang muka.

     Sudah mulai memasuki ulangan tengah semester, dan di sinilah malapetaka itu dimulai. Every night my mom and my step dad always fight ego vs ego and it happens over and over when I’m studying for my semester test, that’s very annoying not gonna lie. Ayah tiriku selalu pulang dalam keadaan mabuk dan sudah mulai memeras uang Mama untuk berjudi. Mulutnya sudah seperti orang gila, kata-kata kasar semuanya dilontarkan ke Mama. Aku sangat marah dan kesal, setiap mendengar sepatah dua patah kata kotor yang keluar dari mulutnya dan ditujukan ke Mama. Dia tidak ada bedanya dengan laki-laki yang selalu bermain di club-club berbau neraka.

     Setiap hari aku mendengar keributan mereka. Tidak sekali saja tetangga sampai menegur ke rumah karena terlalu ribut. Rasanya aku mau gila, mau mati, di saat anak-anak lain fokus belajar untuk ulangan semester, aku justru sibuk berusaha agar damai di rumah yang sudah pasti tidak bisa didapatkan. Ulangan semester sudah selesai, dan waktunya pengambilan rapot. Jelas saja nilaiku menurun drastis, mendapat peringkat hampir yang terakhir di kelas. Aku dimarahi habis-habisan oleh Mama, mulai dari fisik sampai mentalku diuji malam itu. Belum lagi dengan laki-laki jalang itu yang pulang dengan keadaan mabuk dan mulai memukuliku dengan tangannya yang lebih najis dari kencing anjing.

     Waktu terus berjalan. Teriakan demi teriakan kudengar setiap malam. Aku sampai terbiasa mendengar mereka berkelahi hingga pagi, rasanya seperti musik pengantar tidur. Genap setahun sudah pernikahan Mama dan Ayah tiriku, dan aku telah menginjak kelas IX SMP. Keadaannya masih sama, tidak ada yang berubah. Namun, pada suatu malam sampailah pada puncaknya mereka berkelahi, dan benar saja hubungan Mama dengan Ayah sudah berada di ujung tanduk. Malam itu tidak ada lagi teriakan-teriakan yang biasa kudengar. Namun, Mama dan Ayah tiriku sedang berbincang tentang sesuatu di ruang tengah rumahku. Apakah ini akhirnya?

     Benar saja, setelah perbincangan malam itu, Ayah tiriku pergi dari rumah saat malam hari. Aku merasa tenang karena sudah tidak ada beban lagi di dalam rumahku. Namun, tetap saja kejadian yang aku alami di rumah selama satu tahun itu meninggalkan trauma yang cukup besar dalam hidupku. Aku jadi takut dengan laki-laki, tidak mau keluar rumah, lebih sering menghabiskan waktu sendirian bahkan saat di sekolah. Bagaimana dengan circle yang aku buat waktu itu? Hahaha, aku sudah tidak bersama mereka.  Semuanya rusak hanya karena fitnah dan salah faham. Mereka akhirnya menuruti ego masing-masing, dan memilih untuk berpisah dan mencari teman baru dibandingkan untuk meminta maaf. Aku juga tidak peduli lagi dengan mereka. Aku jauh lebih baik tanpa mereka. Aku sedikit bersyukur karena ada daring belajar dari rumah ini, aku jadi tidak perlu bertemu dengan orang banyak di luar sana.

    Waktu terus berjalan. Aku jalani semuanya seperti biasa. Mama yang mulai perlahan melupakan apa yang telah Ia rasakan selama setahun itu. Semuanya di sini sama-sama berusaha melupakan dan mengubur dalam-dalam trauma yang dibuat oleh laki-laki itu. Lelaki yang tidak pantas kupanggil Ayah.

     Bagaimana kabarku sekarang? Masih sama seperti sebelumnya. Trauma itu masih melekat erat seperti dirantai dalam detik hidupku. Namun, aku sedikit lega karena saat masuk SMK aku memiliki teman yang dapat dikatakan jauh lebih baik dari waktu sebelumnya. Semoga saja memang begitu.

*******************************************************

Biografi Penulis:

Siswa saat ini sedang bersekolah di SMK Negeri 2 Balikpapan, kelas X Akuntansi

Hidup itu mudah, yang sulit ngejalaninnya. For anyone out there who are struggling in life, I know you’re strong, and we’re doing great. Thank you for sticking around so far, I’m so proud of you. Follow instagram @bocenyoe

KOMENTAR

Noor Adjizah - Selasa, 05 Oktober 2021

Jalan cerita menarik, penulisan juga uda rapi. Tetap salurkan bakat untuk menulis karena dengan menulis kita bisa mengembangkan setiap ide yang ada di dalam hati dan pikiran

KOMENTARI TULISAN INI

  1. TULISAN TERKAIT
...

Drs. Rusjanto

Assalamu'alaikum wr.wb Alhamdulillah, Puji Syukur kami panjatkan kehadirat-Mu Ya Allah Tuhan Yang Maha Esa atas segala Nikmat dan Karunia yang…

Selengkapnya

JAJAK PENDAPAT

Bagaimana pendapat anda dengan tampilan web ini ?

LIHAT HASIL