SMK Negeri 2 Balikpapan

Jl. Soekarno Hatta Gn. Samarinda Balikpapan

"Tiada Hari Tanpa Prestasi"

Memang Komitmen, Selusin Guru Skada Gabung Seminar GSM

Jum'at, 05 Agustus 2022 ~ Oleh kesiswaan ~ Dilihat 1119 Kali

GSM = Gerakan Sekolah Menyenangkan

Merespon undangan seminar yang diselenggarakan oleh SMKN 4 Balikpapan bertema “Membangun Kultur Sekolah yang Menyenangkan dalam Implementasi Kurikulum Merdeka, telah bergabung 12 guru SMKN 2 Balikpapan (Skada) sebagai peserta dalam kegiatan tersebut yang terdiri dari unsur wakil-wakil Kepala sekolah dan Ketua-ketua program keahlian serta guru bimbingan konseling.

Kegiatan seminar tentang kultur sekolah menyenangkan berlangsung selama lebih kurang 6 jam pada Kamis 4 Agustus 2022 di Hotel Platinum Balikpapan. Muhammad Amin selaku ketua panitia melaporkan bahwa jumlah peserta sebanyak 120 guru mulai dari jenjang pendidikan usia dini, dasar dan menengah. Secara spesial, ada dua orang peserta yang berasal dari Sangatta- Kabupaten Kutai Timur.

Turut hadir dalam sesi pembukaan acara, Kacab. Dinas Pendidikan Provinsi Kalimantan Timur Wilayah 1, Balikpapan-Penajam Paser Utara, Bpk Drs. Mutanto, M.Sc yang tampil casual. Berbagi 5 pantun dalam sesi sambutan, Bpk. Mutanto mampu menciptakan awal kegiatan yang menyenangkan. Dalam sambutannya, Kacab menyampaikan dukungan positif kegiatan seminar yang diselenggarakan oleh SMKN 4 Balikpapan.

Pada bagian inti pertama sesi seminar, Muh. Nur Rizal sebagai pendiri Gerakan Sekolah Menyenangkan mengawali materi dengan gagasan dan pemaparan yang energik untuk menginspirasi peserta. Dalam pemaparannya Muh. Nur Rizal menggulirkan badai gagasan terkait topik keterputusan proses belajar (learning loss) selama masa pendemi covid-19. Muh. Nur Rizal yang berlatar belakang pendidikan Tehnik Elektro dan juga Tenaga Dosen dari UGM menyampaikan ketidak setujuannya dengan pandangan yang menyatakan bahwa learning loss terjadi karena adanya pendemi covid-19. Lebih tajam ia menyampaikan bahwa sejatinya learning loss itu terjadi sejak siswa kehilangan minat belajarnya ketika berada di sekolah akibat Kultur pendidikan feodal terlalu kuat mengkooptasi ekosistem pendidikan di Indonesia sehingga budaya yang menyenangkan tidak tumbuh dalam sistem persekolahan. Hal demikian terjadi jauh sebelum pendemi hadir. Terbukti indeks numerasi dan literasi siswa Indonesia berada dalam posisi yang tidak menggembirakan.

Berangkat dari kondisi pendidikan di Indonesia sebagaimana refleksi dari Muh. Nur Rizal, Gerakan Sekolah Menyenangkan menggugah lapisan akar rumput penyelenggara pendidikan untuk berbenah, dan mengajak para pendidik untuk menumbuhkan kultur interaksi yang menyenangkan bagi siswa, menghidupkan imajinasi yang kuat dalam pembelajaran agar peserta didik merasa asyik menyerap sumber-sumber belajar yang ada di sekelilingnya.

Gambaran pendidik yang menakutkan dan seram bagi siswa adalah gaya penjajah di masa lalu yang menginginkan kelompok pribumi yang mendapatkan akses pendidikan dari kebijakan politik etis, terus terbelenggu mental dan daya kritisnya. Cukup lah bisa membaca, menulis dan menghitung. Menghidupkan daya kritis dari peserta didik sama saja seperti membangunkan singa yang selama ini terpasung. Begitu lebih kurang ilustrasi ideologi pendidikan gaya feodal.

Pada bagian inti kedua sesi seminar, Novi Poespita Chandra, yang merupakan rekan satu tim perintis Gerakan Sekolah Menyenangkan, mengenalkan kepada peserta tentang keajaiban 4 area yang dapat menumbuhkan kultur menyenangkan di sekolah. Area itu adalah kesadaran diri, karakter kolektif, pembelajaran berbasis penalaran dan keterhubungan sekolah dengan realitas di rumah-masyarakat-isu global. Novi yang kesehariannya pun sebagai tenaga dosen psikologi di UGM, mengupas strategi rinci tentang bagaimana tahapan kultur sekolah yang menyenangkan tercipta.

Bagi delegasi peserta SMKN 2 Balikpapan, pemaparan selama kegiatan seminar dari narasumber serasa menjadi penguat frekuensi kultur belajar menyenangkan yang memang menjadi komitmen para pendidik di Skada. Satu dua orang ada saja yang membutuhkan waktu untuk merubah mind set menjadi guru yang menyenangkan. Namun demikian, pendidik di Skada tetap optimis bahwa iklim belajar yang selama ini dibudayakan sudah berada pada rel yang benar yaitu menumbuhkan kultur sekolah yang menyenangkan. Terbukti, tidak sedikit dari para guru yang rela berkorban biaya, waktu dan tenaga mendampingi siswa berprestasi baik dalam bidang akademik maupun non akademik. Para pendidik di Skada rela tidak mendapat honor untuk mendampingi kegiatan ekstrakurikuler meskipun sudah berada di luar jam wajib kerjanya yang mencapai 37,5 jam/ minggu.

“Pengorbanan yang kami lakukan, bukan masalah mengugurkan kewajiban sebagai pendidik namun murni sebagai panggilan hati bagi seorang guru yang siap menjadi sahabat yang menyenangkan bagi siswa meraih prestasi terbaiknya’’ kata H. Sunaryo, salah satu delegasi dari Skada yang ikut dalam kegiatan seminar ini.

 

  1. TULISAN TERKAIT