SMK Negeri 2 Balikpapan

Jl. Soekarno Hatta Gn. Samarinda Balikpapan

"Tiada Hari Tanpa Prestasi"

Kapan Sarjana?

Selasa, 14 Mei 2024 ~ Oleh kesiswaan ~ Dilihat 849 Kali

 

Pintu gerbang pabrik dibuka lebar, para pekerja berhimpitan keluar membawa pulang rasa lelah, asap membumbung memenuhi langit langit ibu kota, keluhan pekerja disore hari terdengar jelas ditelinga. Para perantau mengeluhkan rindu sanak saudara ada beberapa keluhan terdengar karena habis uang sebab mendahulukan keluarga dikampung halaman.

Kaka beradik berjalan menenteng rasa lelah dipundaknya, jarak pabrik ke kos tidak begitu jauh tapi rasanya berjalan saja sudah tidak bertenaga.

“Huff.. kapan jakarta ga macet lagi ? “ pekik Raya sembari menenteng tas ransel dibahu kanannya.

River tersenyum melihat gadis manis berambut bondol yang berdiri disampingnya, raya adalah bontot dikeluarganya yang memutuskan untuk ikut merantau ke ibukota, berharap jadi artis katanya tempo hari.

“ Bang, kenapa betah si disini ? “ melirik sinis kearah River

“ Kamukan tau ini impian abang, kerja diJakarta dikota metropolitan de, bayangkan andai kita masih didesa sudah kupastikan hari ini yang kau jinjing itu karung berisi padi bukan tas keren berlebel Elizabet

Raya melempar nafas berat

Melihat ekonomi keluarganya River memilih untuk merantau kejakarta mengubur dalam dalam impiannya menjadi seorang sarjana demi tuntasnya pendidikan dua orang adik tercinta, tidak ingin membebani lagi orang tua bagi River cukuplah ia hanya sampai duduk dibangku SMA yang penting adiknya bisa jadi sarjana.

Raya adalah kesayangan bapak, bapak adalah orang pertama yang menginginkan anak perempuannya jadi guru, harapan satu satunya karena kakak keduanya memilih menjadi sarjana pertanian.

“ Bang, Raya ga mau sekolah lagi, cape belajar terus raya pengen kerja pengen punya uang buat shoping, beli hp, beli makeup kaya temen temen “ ucapan Raya beberapa tahun lalu ketika River memintanya untuk kuliah mengikuti jejak kakak kedua.

Warteg bu Ati nampak begitu ramai, raya mematung memandangi abangnya

“Bang kita makan apa hari ini ? “

River mengeluarkan uang dua puluh ribu yang nampak lusuh dari saku belakangnya “ beli lah apa yang mau kamu beli “

“ satu ??” tanya Raya sembari melihat uang pemberian abangnya

“ iya satu, abang masih kenyang tadi makan nasi padang “

“ haaa ko bisa abang makan nasi padang aku makan warteg lauk tempe pula” sambil meninju lengan kiri River

“ cepat beli nanti keburu habis”

Raya berjalan gontai mendengus kesal..

Deretan kos sepetak bercat biru nampak terang dari kejauhan, rumput liar mulai tumbuh dihalaman depan. Beberapa anak kos terlihat bermain gitar bernyanyi bersama untuk melupakan rasa lelahnya.

“ baru balik riv” sapa doni sembari menawarkan segelas kopi

“ yoo, masuk dulu aku don, cape “

“ oke” sembari menunjukkan ibu jarinya

Raya menghempas tubuhnya kencang ke atas kasur, river menggantungkan tas di belakang pintu lalu beranjak kedapur menyeduh kopi. Kos yang dibayar 800.000 setiap bulan itu hanya memiliki satu kamar tidur dan satu kamar mandi didalam. Untuk menghemat pengeluaran river meminta raya untuk tinggal bersamanya, tidur beralas kasur lipat diluar sedangkan kasur empuk dikamar ia peruntukkan untuk adik perempuannya.

“ bang ayo makan “

“ iya” sahut river singkat

Setelah membuat kertas nasi raya ngeloyor masuk kedalam kamar

“ kagak mandi lu “ dengan logat jakartanya

“ kagak bang gua lelah “ sahut raya tidak mau kalah

“ jorok amat lu, gimana ada laki mau sama perempuan jarang mandi”

“ ngaca lu bang “ sahut raya ketus sembari menutup pintu kamarnya

River terkekeh mendengar jawaban raya..

River melangkahkan kaki duduk didepan pintu sembari membuka sosial medianya, seharian dia tidak membuka Instagram miliknya.

Sambil meneguk kopi hitam River melihat story instagram milik teman temannya, ada rasa iri menyeruak didalam hati.

“Sosial media kan emang tempatnya mereka menunjukkan kebahagiaan ya, mana ada si orang sedih dipamerin “ ucap river dalam hati

Ada sesak mengalir didalam hati river, bagaimana tidak dia siswa berprestasi disekolah yang memilih merantau ke ibu kota karena ekonomi keluarga yang tidak mengizinkan dia menyandang gelar sarjana muda, dia pun juga harus memikirkan nasib kedua adiknya.

Jangankan perihal pendidikan untuk makan setiap hari saja dia rela membagi hanya untuk adiknya, ia harus menghemat uang setiap hari tidak mengapa aku hanya makan roti yang penting raya bisa makan nasi.

Mata river menatap kedepan, kosong hampa.

 

Sebentar lagi pagi kan datang…

Walau sang bulan malas untuk pulang…

Dibangku terminal benakmu bertanda…

Gelisah seorang merasa terbuang…

Sedetik ingatnya seribu angannya…

Dambakan malam terus berbintang…

Dibawah sadarnya nasib bercerita…

Hangatnya bara ne..raka…

 

Terdengar doni dan kawan kawan menyanyikan lagu Iwan Fals di iringi suara gitar menyadarkan river dari diamnya.

 

Disisi lain, terdengar lirih suara tangis seorang perempuan didalam kamarnya.

 

Raya, selalu menyeka air mata dimalam hari lalu berdiri tegar dipagi hari. Menatap langit langit kamarnya, samar nampak raut wajah bapak ibu dikampung halaman, ada kesedihan yang begitu jelas.

Raya seorang perempuan yang bercita-cita menjadi dosen, bukan hanya keinginan sang bapak.

Raya ingin menjadi dosen disebuah universitas terkemuka, perempuan yang menggunakan makeup tipis, wangi dan menenteng tas dilengan kirinya memakai blazer berpenampilan rapi, menggunakan heels lalu berjalan tegap menuju ruang ruang kelas untuk mengajar mahasiswanya. Ya begitulah gambaran dewasa di mata kecilnya kala itu.

Nyatanya, Raya pun menjadi bagian yang harus memeluk angan-angannya ia tidak ingin membebani abangnya yang juga membiayai kuliah kakak keduanya, juga tak ingin membebankan ibu bapaknya yang hanya menjadi seorang buruh tani.

 

Raya memilih menghasilkan uang sendiri, tak mengapa aku tak sarjana yang penting ibu bapak bahagia, mungkin di dua puluhku aku tidak jadi dosen tapi bukankah mimpi tidak berhenti di angka dua puluh, mungkin tiga puluh atau mungkin empat puluh.

 

Setidaknya aku akan tetap merangkul mimpiku meskipun tidak saat ini mungkin nanti, biarlah hari ini aku terseok dulu tapi kelak aku akan memwujudkan mimpi, yaa seorang dosen yang dia gambarkan dimasa kecilnya.

 

Ab.

KOMENTARI TULISAN INI

  1. TULISAN TERKAIT