Djoeli. Seseorang yang sangat, sangat, menyukai kisah romansa klise yang
ada di cerita-cerita tua. Jatuh cinta pandangan pertama di toko buku ; berkencan di
tengah hujan deras ; atau sekedar berjalan di kebun saat langit teduh dan berbagi
kisah.
Baginya, jatuh cinta itu indah. Namun indah itu belum kunjung berjumpa
dengannya. Terakhir kali Joli jatuh cinta itu.. sudah lama sekali. Sekolah Menengah
kalau tidak salah.
Hebatnya, Djoeli rasakan lagi getaran itu untuk pertama kalinya setelah
sekian lama sekarang. Kepada laki-laki berkacamata yang tidak banyak bicara, yang
sehari-harinya hanya memakai baju dan celana hitam, yang divariasikan pada
modelnya saja. Djoeli bisa saja menulis 1500 halaman sendiri menceritakan apa
saja yang dirinya kagumi dari pria itu.
Namanya Khadafi. Orang sekitarnya memanggil dirinya Khai, Dhafi, atau
Khadafi. Sebagai seorang rakyat biasa yang malas menjadi beda, Djoeli mengikuti
mayoritas termudah saja dengan memanggilnya Khadafi. Khadafi ini menganggap
semua orang sebagai teman. Bukan, bukan dalam konteks positif. Bahkan jika
Djoeli sekarang menyatakan perasaannya pada Khadafi, mungkin jawabannya akan,
“kita berteman saja” seperti beberapa perempuan yang pernah berbagi cerita
dengan Djoeli.
Beberapa hari kemudian, tiba hari yang bahagia bagi Djoeli, karena hari itu
adalah hari ulang tahunnya. Seseorang mengirimkan surat di secarik kertas
berukuran 5 × 5 yang menurutnya dari Khadafi. Dirinya mencari keberadaan pria
tersebut yang sudah ditunggu-tunggu pada perayaan ulang tahunnya. Sampai pada
akhirnya Djoeli menemukan keberadaannya.
Djoeli sodorkan sepotong kue di atas piring kertas. Pria itu mendongak dan
melihat Djoeli dengan tatapan bingung. Djoeli tersenyum.
“Ada yang mau kamu sampaikan ke aku?”. Khadafi menaikan kedua alisnya.
“Kayaknya kamu mau bilang sesuatu ke aku, Dhaf”. Kata Djoeli. Ia
mengangkat dua lembar kertas yang terlipat rapi.
Surat Khadafi yang hilang. Surat berisi kata-kata yang menyatakan
perasaannya, ada di tangan Djoeli. Khadafi membulatkan matanya terkejut.
“Kok ada di kamu?”
“Viela kasih ini ke aku tadi siang. Dia nemu di jalan katanya, tapi tulisannya
buat aku”.
“Kalau aku boleh dan pantas untuk jadi seseorang dalam hidupmu, jadi
suatu kehormatan besar karena.. kamu adalah wujud nyata dari rangkaian doaku
ke Tuhan”. Khadafi akhirnya membuka suara.
Mungkin memang sebagian kisah cinta dalam diam hanya terhalang
komunikasi. Mungkin keduanya memiliki perasaan yang sama, hanya kata yang
menjadi pembeda masing-masing. Djoeli jatuh lebih dulu, tanpa mengetahui
Khadafi jatuh di waktu yang sama.
Sekali lagi, seni mencintai dalam diam adalah, euforia ketidaktahuan
perasaan sama lain.
Karya : Keysha Farah Novalia X. AKL 1
Copyright © 2017 - 2026 SMK Negeri 2 Balikpapan All rights reserved.
Powered by sekolahku.web.id