SMK Negeri 2 Balikpapan

Jl. Soekarno Hatta Gn. Samarinda Balikpapan

"Tiada Hari Tanpa Prestasi"

Seni Mencintai dalam Diam

Selasa, 11 Juni 2024 ~ Oleh kesiswaan ~ Dilihat 489 Kali

Djoeli. Seseorang yang sangat, sangat, menyukai kisah romansa klise yang

ada di cerita-cerita tua. Jatuh cinta pandangan pertama di toko buku ; berkencan di

tengah hujan deras ; atau sekedar berjalan di kebun saat langit teduh dan berbagi

kisah.

Baginya, jatuh cinta itu indah. Namun indah itu belum kunjung berjumpa

dengannya. Terakhir kali Joli jatuh cinta itu.. sudah lama sekali. Sekolah Menengah

kalau tidak salah.

Hebatnya, Djoeli rasakan lagi getaran itu untuk pertama kalinya setelah

sekian lama sekarang. Kepada laki-laki berkacamata yang tidak banyak bicara, yang

sehari-harinya hanya memakai baju dan celana hitam, yang divariasikan pada

modelnya saja. Djoeli bisa saja menulis 1500 halaman sendiri menceritakan apa

saja yang dirinya kagumi dari pria itu.

Namanya Khadafi. Orang sekitarnya memanggil dirinya Khai, Dhafi, atau

Khadafi. Sebagai seorang rakyat biasa yang malas menjadi beda, Djoeli mengikuti

mayoritas termudah saja dengan memanggilnya Khadafi. Khadafi ini menganggap

semua orang sebagai teman. Bukan, bukan dalam konteks positif. Bahkan jika

Djoeli sekarang menyatakan perasaannya pada Khadafi, mungkin jawabannya akan,

“kita berteman saja” seperti beberapa perempuan yang pernah berbagi cerita

dengan Djoeli.

Beberapa hari kemudian, tiba hari yang bahagia bagi Djoeli, karena hari itu

adalah hari ulang tahunnya. Seseorang mengirimkan surat di secarik kertas

berukuran 5 × 5 yang menurutnya dari Khadafi. Dirinya mencari keberadaan pria

tersebut yang sudah ditunggu-tunggu pada perayaan ulang tahunnya. Sampai pada

akhirnya Djoeli menemukan keberadaannya.

Djoeli sodorkan sepotong kue di atas piring kertas. Pria itu mendongak dan

melihat Djoeli dengan tatapan bingung. Djoeli tersenyum.

“Ada yang mau kamu sampaikan ke aku?”. Khadafi menaikan kedua alisnya.

“Kayaknya kamu mau bilang sesuatu ke aku, Dhaf”. Kata Djoeli. Ia

mengangkat dua lembar kertas yang terlipat rapi.

Surat Khadafi yang hilang. Surat berisi kata-kata yang menyatakan

perasaannya, ada di tangan Djoeli. Khadafi membulatkan matanya terkejut.

“Kok ada di kamu?”

“Viela kasih ini ke aku tadi siang. Dia nemu di jalan katanya, tapi tulisannya

buat aku”.

“Kalau aku boleh dan pantas untuk jadi seseorang dalam hidupmu, jadi

suatu kehormatan besar karena.. kamu adalah wujud nyata dari rangkaian doaku

ke Tuhan”. Khadafi akhirnya membuka suara.

Mungkin memang sebagian kisah cinta dalam diam hanya terhalang

komunikasi. Mungkin keduanya memiliki perasaan yang sama, hanya kata yang

menjadi pembeda masing-masing. Djoeli jatuh lebih dulu, tanpa mengetahui

Khadafi jatuh di waktu yang sama.

Sekali lagi, seni mencintai dalam diam adalah, euforia ketidaktahuan

perasaan sama lain.

 

Karya : Keysha Farah Novalia X. AKL 1

KOMENTARI TULISAN INI

  1. TULISAN TERKAIT