A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: Division by zero

Filename: public/Readmore.php

Line Number: 37

Backtrace:

File: /var/www/vhosts/smkn2balikpapan.sch.id/httpdocs/website/application/controllers/public/Readmore.php
Line: 37
Function: _error_handler

File: /var/www/vhosts/smkn2balikpapan.sch.id/httpdocs/website/index.php
Line: 315
Function: require_once

Cerbung: Sesaat (Bag. 1) | SMK Negeri 2 Balikpapan

SMK Negeri 2 Balikpapan

Jl. Soekarno Hatta Gn. Samarinda Balikpapan

"Tiada Hari Tanpa Prestasi"

Cerbung: Sesaat (Bag. 1)

Rabu, 13 April 2022 ~ Oleh picWEB3 ~ Dilihat 557 Kali

     Di balik jendela, kupandangi langit. Sepertinya malam ini terlihat bahagia, cahaya bulan yang terang dibalut butiran bintang seakan meramaikan angkasa, ah, indahnya. Tapi tetap saja suasananya begitu sepi, seolah tak ada kehidupan di dunia. Aku bingung kenapa Bunda tidak pernah mengzinkanku menginjak kaki ke luar, padahal kata Bunda aku anak yang baik.

    Langitnya sangat terang, harusnya hari ini aku menggunakan gaun yang cantik, siapa tau nanti ada pangeran yang datang menghampiri, candaan ku sambil menopang wajah dengan tangan di jendela. Tak lama kemudian mata ku terasa berat, alam bawah sadar perlahan mulai memasuki mimpi.

     “tukk..” sesuatu benda menjatuhi kepalaku sehingga membuatku terbangun.

     “duh, apa ini?”

    “Oh, biji oak! eh, tunggu dari mana datang nya ini? bukan kah di sini tidak ada pohon?”, dengan rasa heran kupandangi biji oak itu, kuarahkan pandanganku ke depan yang membuatku semakin heran.

    Betapa kagetnya aku, jendela kamar yang semula biasa saja berubah menjadi lubang hitam, lubang itu memancarkan cahaya ungu kebiru-biruan dan ditaburi percikan seperti glitter. Karena penasaran, kucoba memasukan tanganku kedalamnya, tiba-tiba ada seorang yang menggenggamku, rasa reflek membuatku menarikkan tangan untuk menghindarinya.

     Aku dan seorang lelakipun terjatuh. Seorang lelaki berbadan tinggi, berkulit putih pucat, berambut coklat tua dengan wajah yang cukup tampan, dan hidung yang sempurna. Iris matanya yang bewarna hijau dan kedua mataku saling bertatapan, sehingga hampir saja membuatku jatuh hati. Karena takut, aku dengan sigap mengambil gunting yang ada di atas nakas.

     “Ss-siapa kamu?” tanyaku dengan menyodorkan gunting kehadapannya.

     “Wooo…woo.. woo…tenanglah” katanya sambil tersenyum.

    “Siapa kamu! Mau apa kamu ke sini? Kenapa kamu lewat dari lubang itu? ” tanyaku lagi dengan nada cepat dan menekan.

    “Wuoww… sabar Nona, satu-satu, perkenalkan namaku Fictio, aku kesini karena kamu memanggilku, dan lubang yang kau maksud itu namanya portal,” jawab Fictio dengan santai dan percaya diri.

     “Memanggilmu? kapan aku memanggilmu? Maaf ya, Tuan, tapi aku saja tidak kenal kau,” balasku dengan mulai berani.

    “Hmm.. apa kau benar tidak memanggilku?, aku yakin ini benar tempatnya,” ia bertanya dengan kebingungan.

    “Maaf, kurasa kau salah orang, cepat pergi dan kembali ke portal cahayamu!” pintaku dengan tegas.

    “Apa benar kau tidak memanggilku? Mungkin saja kau kesepian? Atau kau membuat sebuah permohonan?” tanyanya sekali lagi untuk memastikan.

 

Selang beberapa jam sebelumnya:

      “Kepada malam, aku lelah mengadu tentang keheningan, setiap hari begitu sama, rasanya kelam bagai bayang-bayang.

     Wahai rembulan berilah aku seorang teman walau hanya sebentar. Kawanku langit, apa kau tidak jenuh mendengar harap ku? Ya bintang kabulkanlah doaku ini.”

 ***

     Aku terdiam seketika dan teringat pinta ku beberapa saat lalu, apakah benar ia jawaban atas doaku?

    “Se-sebenarnya aku memang sangat kesepian dan benar aku menginginkan seorang teman, jadi doaku yang tadi apakah benar terkabul?” aku bertanya dengan sungguh-sungguh.

     “Sudahku duga, tentu saja, tak mungkin aku salah orang,” ia mengatakannya dengan perasaan lega.

     “Kalo begitu, heii... mari kesini,” ajaknya sambil menarik tangan ku.

     “Lepaskan, aku tidak mau ikut denganmu, portal itu sangat aneh, aku tidak tau apa di dalamnya,” kataku dengan nada ketakutan.

     “Ayolah, percayakan ini padaku, tidak mungkin aku mengajak gadis secantikmu untuk berburu monster,” ia berkata sambil tertawa. Aku hanya diam dan tersipu malu.

     Lalu aku menjauhinya, tetapi ia semakin mendekat. Akhirnya, kami saling kejar-mengejar di dalam kamar, kulempar bantal ke arahnya, apapun sesuatu yang bisa membuatnya menjauh, ku lemparkan ke arahnya. Karena kami lelah, aku mulai duduk dan menyandarkan diri di tembok dengan napas yang tersengal, ia pun menghampiriku dan berkata,

     “Percayalah, saat kau masuk nanti akan banyak hal indah dan tak terduga terjadi,” dengan kata-kata yang meyakinkan, ia menyodorkan tangannya.

   Setelah bergelut dengan pikiran, kukumpulkan secarik keberanian dan menggenggam tangannya, walaupun hati ku sedikit ragu, tetapi sebenarnya aku penasaran apa yang ada di balik portal itu.

     “Baiklah, aku ikut, tapi kau berjanji tidak akan ada hal yang menyeramkan!” kataku.

      “Janji,” ia berkata sambil tersenyum.

     Kami bergandengan tangan memasuki portal, dengan mata tertutup kurasakan tubuhku seakan-akan melewati sebuah kapas yang sangat lembut, satu kata yang menggambarkan perasaan itu ‘nyaman’ seperti berada diantara awan.

     Perlahan aku membuka mataku, atmosfer di sini sangat sejuk, jauh berbeda dengan hawa yang ada di kamar. Pemandangan di depan mataku membuat hatiku terpanah, pohon-pohon yang begitu banyak saling berhimpitan di sekelilingnya dipancari sinar bintang, diantara pepohonan itu terbentuklah jalan, anehnya jalan itu dibanjiri air yang sangat jernih sehingga pantulan bulan dan bintang-bintang membentuk lautan cahaya. Aku mencubit pipiku berulang kali memastikan bahwa ini bukan mimpi, ah! sakit, ternyata benar ini bukan mimpi. Astaga bagaimana bisa ada tempat seperti ini?

      “Gimana, cantik bukan? Masih banyak hal ajaib yang akan kau temukan nanti”, kata Fictio.

     “Astaga, wonderful… apa kau tinggal di sini? Ini sangat luar biasa! Lihat airnya begitu jernih, dan pepohonan itu memancarkan cahaya, cahaya apa itu? Dari mana datangnya? Apakah itu bintang? Atau itu intan permata?” aku terlalu bersemangat sehingga begitu banyak pertanyaan yang terlontar.

     “Gemass…kau selalu ingin tau banyak hal, ya,” jawabnya dengan tersenyum lebar dan tidak menjawab rasa penasaranku.

     Lalu Fictio mengusap rambutku dan mengajakku naik perahu, ada seorang lelaki tua dan berwajah ramah mendayungkan perahu untuk kami lewati pepohonan itu, sepanjang jalan aku hanya memandangi indahnya suasana. Aku sangat menikmati perjalanan ini ditambah Fictio memainkan sebuah ukulele dan menyanyikan sebuah lagu.

 

Bulan oh rembulan

Manusia singgah dan pergi

Tapi lihatlah kau tersenyum mesra

Bulan…

Jika sinar mu abadi

Bolehkah ku minta secercah

Kan ku jadikan bagian dari sukma ini

 

     Setelah melewati hutan cahaya, kami turun dan berterima kasih kepada bapak tadi. Kami sampai di sebuah desa, ya, benar sebuah desa, desanya para peri. Aku juga awalnya tidak percaya ini benar terjadi, kukira peri hanyalah legenda kuno yang ada di buku anak-anak.

     Setelah melihat langsung wujud mereka, hati ku berdegup kencang. Bagaimana bisa ada makhluk secantik mereka. Para peri tersebut memiliki sayap yang indah, mereka mengepak-kepakan sayapnya dengan lincah, kemana ia pergi seperti melihat cahaya terbang. Sayap mereka sangat indah melebihi kupu-kupu tercantik yang pernah singgah di teras rumahku. Mata mereka besar dan bercahaya sangat pas untuk wajah mungilnya, bibir merah muda dan bulu mata keriting. Siapa yang tidak kasmaran saat melihat mereka? dan uniknya, daun telinga para peri itu sangat panjang, sebagian dari mereka menghiasinya dengan anting permata. Aku penasaran dengan telinga seperti itu, seberapa jelas ia bisa mendeteksi suara. Oh, iya, satu lagi, kulit mereka memiliki beragam warna, ada yang ungu, biru, pink, jingga, dan hijau.

bersambung...


Biografi Penulis

Diosina Rabielda Djamardi, seorang Selenophile atau pecinta bulan, ia memiliki kegemaran mendengarkan berbagai musik bergenre jazz, neo soul, rock dan indie. Sebenarnya tidak ada sesuatu yang spesial di hidupnya, ia hanya ingin setiap orang dapat merasa nyaman dengan diri sendiri dan bebas mengekspresikan perasaannya tanpa rasa malu ;)

follow my IG: diosinardz

KOMENTARI TULISAN INI

  1. TULISAN TERKAIT