A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: Division by zero

Filename: public/Readmore.php

Line Number: 37

Backtrace:

File: /var/www/vhosts/smkn2balikpapan.sch.id/httpdocs/website/application/controllers/public/Readmore.php
Line: 37
Function: _error_handler

File: /var/www/vhosts/smkn2balikpapan.sch.id/httpdocs/website/index.php
Line: 315
Function: require_once

Cerbung: Sesaat (Bag. 2) | SMK Negeri 2 Balikpapan

SMK Negeri 2 Balikpapan

Jl. Soekarno Hatta Gn. Samarinda Balikpapan

"Tiada Hari Tanpa Prestasi"

Cerbung: Sesaat (Bag. 2)

Senin, 23 Mei 2022 ~ Oleh picWEB3 ~ Dilihat 411 Kali

****

     Desa peri itu dibentangi perumahan yang mungil berada di tanah ada yang menempel di batang pohon. Jika aku salah melangkah dan tak sengaja menginjak, sudah pasti rumah itu hancur berkeping-keping. Seekor peri menghampiriku lalu mengelilingi tubuhku. Ia menatap kedua mataku dan memperhatikan wajahku dengan penuh kebingungan. Peri itu sangat kaget, ia memanggil temannya dan berkata,

     “AAA… Heii! lihat! Ada manusia!” teriaknya.

     “Apa? Manusia? Manusia? Kabur.. kaburr,” gemuruh suara para peri.

     Para peri pun berbondong-bondong masuk ke dalam rumah.

     “Hei Fayette! (panggilan untuk para peri) jangan takut, ia temanku, teman baik ku, ia sangat ramah dan tidak akan menyakitimu,” sahut Fictio dengan nada kencang.

     Aku mengintip rumah peri itu lewat jendelanya. Terlihat seekor peri yang sangat ketakutan bersembunyi di bawah kursi, aku tidak ingin menakutinya jadi ku berikan senyuman manis. Setelah itu raut wajahnya tidak lagi terlihat ketakutan, ia memberanikan diri keluar dan berpangku di hidung ku, lalu ia tersenyum dan memanggil kawannya. “Hei teman-teman lihat, lah! Dia tidak menyakitiku, dia baik!” sahutnya.

     Para peri itu pun perlahan keluar, lalu memutariku dan Fictio, mereka menari-nari dengan ceria. Mereka membuat sebuah simpul dirambutku dan merangkai sebuah mahkota bunga lalu memasangnya ke kepalaku, kami pun menari dengan gemulai. Aku sangat bahagia saking bahagia seperti ingin meledak. Kembali Fictio menyanyikan sebuah lagu diiringi alat musik dari batang kayu, batu, dan hentakan para peri. Peri-peri itu bergantian menyanyikan sebuah lagu dengan nada riang sebagian menebarkan dedaunan dan serbuk bintang.

 

Hei manusia bumi

Menetaplah disini

Tataplah negeri kami

Negerinya para bidadari

Oa.. oe.. oa.. oa.. oe..

Gemericiknya air menjadi lagu

Merdunya angin menjadi puisi

Khayalan, angan, impian

Semuanya ada disini

Oa.. oe.. oa.. oa.. oe..

 

      “Tinggallah di sini, kami yakin kau akan betah,” ajak peri berambut jingga itu.

     “Tepat sekali. Jika kau tinggal di sini, setiap malam kita akan berdansa riang, menyanyi, tertawa, dan minum susu arbei sepuasnya,” sambung peri berkulit ungu.

     “Bagaimana? Apa kau tertarik? Jika ya, makanlah buah ini,” kata peri berambut putih sambil menyodorkan buah apel.

     Tanpa berpikir panjang, tentu saja aku menerimanya, hampir kugigit buah itu tetapi Fictio menebasnya dan berkata, “Tuan-tuan dan nyonya-nyonya, maaf tapi kami punya urusan,” kata Fictio sambil menarik tanganku.

     “T-tapi kami belum selesai, sebentar lagi,” kata peri itu dengan sedikit memohon.

     “Oh.. oh.. tidak bisa, kami akan lanjut berpetualang,” tegas Fictio.

     “Baiklah kalau begitu. Hati-hati di jalan ya! Jangan lewat lembah Ruofo! (lembah di sebelah barat yang berisi lumpur coklat penghisap, siapun yang masuk tidak akan keluar),” ujarnya yang terlihat semakin menjauh.

     “Terima kasih nasihatnya, kami ke arah barat! Sampai jumpa!” Teriak Fictio dari kejauhan.

     “Terima kasih banyak atas sambutannya, sampai jumpa lagi!” sahutku.

     Sepanjang jalan aku melihat berbagai macam keunikan, mulai dari jamur raksasa yang tersebar, bunga yang setiap kelopaknya bewarna-warni, tumbuhan yang menjulang tinggi berbentuk seperti ubur-ubur berwarna biru menyala seakan di sekelilingnya terdapat aliraan listrik, tanaman seperti rumput laut tersebar di sekitar jalanan.

     Jangan tanya mengapa aku dapat mengenal ubur-ubur dan rumput laut sementara itu aku tidak pernah keluar rumah, tentu saja dari membaca buku tentang tumbuh-tumbuhan dan hewan.

     Lalu juga ada kristal yang tumbuh di tanah, bunga yang mengelurkan percikan gas berwarna pink, kata Fictio bunga itu bekerja seperti pohon di bumi untuk menyaring CO2 dari polusi menjadi udara segar kembali, pokoknya masih banyak hal unik yang tidak dapat kuceritakan satu-persatu.

   Tak terasa sedari tadi tanganku dan Fictio saling menggenggam. Aku memandangnya, lalu ia tersadar dan berkata,

     “Maafkan aku senaknya menyentuh tangan,” sambil melepaskan tanganku, dengan rasa malu.

     “Hihihi, tidak apa-apa, aku juga tidak menyadarinya karena terlalu menikmati perjalanan,” jawabku sambal tertawa kecil.

     “Ngomong-ngomong, apa yang akan kita datangi selanjutnya?” tanyaku.

     “Kita akan kerumah sahabatku, Volare. Ia adalah seekor kuda terbang,” jawabnya. Atau yang biasa disebut Pegasus,” sambungnya sambil berbisik.

    “Wow.. menakjubkan kau bersahabat dengan binatang. Apakah dia bisa berbicara?” tanyaku.

     “Tidak bisa, aku dulu juga mengharapkan dia bisa berbicara, tetapi tenang saja ia mengerti apa yang kita ucapkan,” jelasnya.

     “Baiklah kalau begitu, aku mengerti,” jawabku dengan singkat.

     “Nah kita sudah sampai, itu dia di sana rumahnya,” Fictio menunjukan sebuah rumah.

     Sebuah rumah yang dindingnya tersusun dari pecahan batu gampling bewarna ungu, atap rumah itu dipenuhi tanaman bunga mawar yang tumbuh lebat, halaman rumah tersebut tersusun rapi, terdapat tanaman topiary berbentuk kuda, ikan, lebah dan kupu kupu.

     “Tok.. tok.. tok..” suara pintu rumah Volare terdengar.

     Volare membuka pintu lalu mengintip sedikit, terlihat raut bahagia diwajahnya. Ia memeluk Fictio, lalu memperhatikanku dan ikut memelukku. Aku pun memblas pelukannya, Volare pun mempersilahkan kami masuk ke dalam.

     Volare adalah seokar kuda memiliki sayap dan tanduk dikepalanya berwarna emas berkilau, rambut badan Volare bewarna putih dan lebat, dengan mata bersih dan teduh bewarna hitam. Volare menyodorkan teh kepada kami, tapi Fictio menggeser tehku kehadapan Volare dan berkata, “asal kau tau Volare, dia itu manusia,” kata Fictio.

     Dengan wajah kaget, Volare menundukan kepalanya seolah ia sedang meminta maaf, aku hanya mengusap rambutnya dan kembali mengangkat Volare.

    “Ingat, ya, kau tidak boleh makan dan minum dari negeri ini, kalau kau melanggarnya, kau tidak bisa balik ke dunia asalmu,” jelas Fictio.

     “Oh, jadi itu sebabnya kau meleraiku memakan buah apel tadi?” kata ku yang sudah paham.

      “Yap,” Balas Fictio dengan singkat.

    “Jadi begini, kami butuh bantuanmu,” kata Fictio. Raut wajah fokus Volare, membuat Fictio melanjutkan permintaanya.

     “Apakah kau mau mengantarkan kami berkeliling kota?” tanya Fictio.

     Volare mengangguk tanda ia menerima, permintaan Fictio.

     “Terima kasih banyak Volare,” kata Fictio.

     Akupun juga berterima kasih kepada Volare. Setelah Fictio menghabiskan tehnya, kami naik ke atas pungung Volare untuk mengelilingi kota.

     “Kau sedang apa di situ? Sini naiklah!” kata Fictio sambil megulurkan tangan.

     “Aku takut, ini pasti akan sangat tinggi di atas sana,” balasku.

     “Jadi begitu, tenang saja kita tidak akan jatuh Volare adalah kuda terbaik di negeri ini,” sanjung Fictio sambal mengcungkan jempol. Volare hanya mengeleng-gelengkan kepala.

     “Jika kau takut kau boleh memegangku, ini akan baik-baik saja, tidak akan terjadi hal buruk,” sambung Fictio.

     “Oke, aku pasti bisa!” kataku dengan nada semangat. Sebenarnya aku masih takut, hanya saja aku tak ingin merepotkan mereka yang sudah susah payah bermaksud baik padaku.

     “Semangat” sambung Fictio.

     Aku naik di atas punggung Volare duduk di belakang badan Fictio. Fictio menarik tanganku memastikan agar aku aman, tapi itu membuatku malah memeluknya. Jantungku berdegup kencang, aku tidak pernah seperti ini sebelumnya pada siapapun. Karena ketinggian kakiku terasa melayang, membuatku terus menutup mata, hingga tak berani menengok ke bawah. Fictio menoleh ke arahku lalu berkata,

     “Bukalah matamu, lihat sekeliling, betapa indah negeri Imago (nama negeri ini), di bagian mana bumi ada yang seperti ini” pintanya.

     “Tidak apa-apa perlahan saja, jika takut kau bisa menutup lagi” sambungnya dengan nada lembut.

     Perlahan aku membuka mataku, kuarahkan pandanganku ke bawah. Untuk kesekian kalinya aku terkejut, apa ini? Mengapa ada negeri seindah cerita dongeng? Tidak, tidak, kurasa ini melebihi cerita dongeng.

     Bisa kau bayangkan setiap wilayah tersusun dengan rapi, terdapat tema tersendiri di dalamnya. Di bagian Utara terdapat sungai ungu menyala di kelilingi sangat banyak awan dan cahaya aurora yang terhampar, tentu menghipnotis siapa saja yang melihatnya. Wilayah sebelahnya terdapat sebuah kerajaan bewarna putih di atas lautan biru jernih, lengkap dengan rumah penduduk yang tebuat dari kaca. Di sebelah Timur ditinggali oleh Kelinci, dari atas aku melihat Kelinci yang sedang pesta minum teh. Di bagian barat terdapat pemukiman warga bewarna-warni, beserta pelangi yang menghiasinya. Di sampingnya terdapat lembah coklat dan gunung es. Semua terlihat tidak masuk akal.

     Tak lama kemudian Volare menurunkanku dengan Fictio di sebuah taman bunga, kami berpelukan lalu ia pergi meninggalkan kami. Taman bunga ini berwarna pink, bunganya sangat harum dan terhampar luas. Aku dan Factio melewati sebuah gorden bunga menuju ke sebuah bukit. Bukit yang hijau dengan rumput yang halus. Di atas bukit ini pemandangan langitnya hmm, sudah lah, sudah bosan aku memuji keindahan negeri Imago ini.

     Kami duduk di atas bukit Vidiana. Tak lama, aku pun merebahkan badan sambal menatap angkasa, mengingat petualangan fantastis ini, Fictio pun ikut merebahkan badan di sampingku.

     “Ini tempat yang ingin kuperlihatkan kepadamu. Bagaimana? Apa kau suka?” tanya Fictio dengan wajah tegang.

     “Ya, tentu saja aku suka, lihat bulannya sangat besar hampir akan menyentuh tanah. Planet di sini terlihat sangat jelas, langitnya persis seperti galaksi yang ada di buku astronomiku,” kataku sambil menatap langit.

     “Syukurlah kalau kau suka, aku sangat suka bulan, jika di tempat biasa rasanya bulan terlalu sulit digapai, tetapi berbeda jika di bukit ini. Kalau kau bagaimana?” tanya Fictio.

     “Aku juga suka bulan, bagi ku bulan adalah sahabat. Dia tetap bersinar walaupun sendirian  di antara jutaan bintang,” jawabku.

     “Ngomong-ngomong, sedari tadi aku belum mengetahui namamu, kalau boleh tau siapa namamu?” tanya Fictio.

     “Oh iya, perkenalkan namaku Fansa,” balasku.

     “Fansa, Fansa, nama yang bagus,” dia berkata sambal tersenyum.

     “Senang bisa mengenalmu, Fansa,” sambungnya.

     “Jika boleh tau, kau ini bukan manusiakan? Kau sebenarnya apa?” tanya Fansa dengan penasaran seraya menghadap Fictio.

     Fictio menoleh ke arah Fansa dan berkata, “iya benar, aku memang bukan manusia, aku ini adalah IMAJINASI muuu..uu..u..”.

     “Huh..huh..huh..” Suara nafasku tersenggal-sengal, aku terbangun menatap jeruji yang ada di depan kasurku. Tubuhku terbaring menghadap langit-langit, aku mencoba berdiri tetapi kaki tanganku terikat seutas tali. Aku berteriak dan terus berteriak, tetapi tidak ada yang mau menolongku. Akhirnya bunda datang membawa suntikan.

     “Ayo Fansa anak baik, ingat kata bunda! Nggak ada siapa-siapa di sini, cuman ada kamu dan bunda,” kata bunda dengan lembut sambil tersenyum.

     Aku melihat Fictio di samping Bunda, aku mencoba memanggil Fictio tapi aku mulai merasa ngantuk dan semuanya menjadi gelap.

Tamat-


Biografi Penulis

Diosina Rabielda Djamardi, seorang Selenophile atau pecinta bulan, ia memiliki kegemaran mendengarkan berbagai musik bergenre jazz, neo soul, rock dan indie. Sebenarnya tidak ada sesuatu yang spesial di hidupnya, ia hanya ingin setiap orang dapat merasa nyaman dengan diri sendiri dan bebas mengekspresikan perasaannya tanpa rasa malu;)

follow my IG: diosinardz

KOMENTARI TULISAN INI

  1. TULISAN TERKAIT