A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: Division by zero

Filename: public/Readmore.php

Line Number: 37

Backtrace:

File: /var/www/vhosts/smkn2balikpapan.sch.id/httpdocs/website/application/controllers/public/Readmore.php
Line: 37
Function: _error_handler

File: /var/www/vhosts/smkn2balikpapan.sch.id/httpdocs/website/index.php
Line: 315
Function: require_once

Hati-hati di Jalan | SMK Negeri 2 Balikpapan

SMK Negeri 2 Balikpapan

Jl. Soekarno Hatta Gn. Samarinda Balikpapan

"Tiada Hari Tanpa Prestasi"

Hati-hati di Jalan

Rabu, 03 Agustus 2022 ~ Oleh picWEB3 ~ Dilihat 372 Kali

Suara langkah kaki terdengar di seluruh koridor sekolah. Anak tangga satu demi satu perempuan itu naiki hingga sampai lantai atas. Sejenak ia mengatur napas hingga menjadi lebih teratur. Kemudian, perjalanan kembali berlanjut menuju kelas sang kekasih.

Tubuh pendek gadis yang memiliki nama Naomi itu, sudah berada di depan kelas kekasihnya. Sorot mata menangkap lambang bertuliskan kelas; XII MIPA 2. Helaan napas keluar dari bibir ranum, salah satu tangan digunakan untuk membuka pintu.

Di sana, terdapat seorang pemuda sedang duduk dengan paras tertunduk akibat sedang membaca buku. Suasana kelas sangat sunyi. Di lain sisi, Naomi sedikit merasa beruntung karena teman kelas dari sang kekasih telah pulang.

"Kukira kamu bakal kabur, Kak." Sinis Naomi.

Pemuda itu merasa terpanggil, ia mendongakkan kepalanya dan menemukan wajah sang adik kelas. Paras Naomi merah, mirip seperti tomat. Tatapan pemuda itu tak kunjung lama, ia kembali mengalihkan pandang ke arah buku yang ia baca tadi. Naomi yang melihat hal itu merasa sangat marah, tetapi ia segera meredakan emosinya.

"Kak Juan" panggil Naomi, alih-alih mendapatkan kembali perhatian Juan, ia malah tak mendapatkan satu pun respon dari pemuda itu.

"Ap... Hei! Kembalikan itu!" Saat Juan hendak menjawab panggilan Naomi sembari menatapnya, ia dikejutkan dengan Naomi mengambil kacamatanya dari pangkal hidungnya.

"Kenapa tiba-tiba minta putus?" Pertanyaan itu akhirnya keluar dari bibir Naomi, raut wajah dingin pun tak tertinggal. Juan yang melihatnya dibuat terdiam seribu bahasa, pemuda itu tak pernah seumur-umur diberikan perilaku seperti itu oleh Naomi.

Juan bertanya-tanya dalam benaknya, apakah sebegitu kesalkah Naomi saat ia mengatakan ingin putus? Padahal itu adalah jalan yang paling benar untuk hubungan mereka berdua.

Tak ingin ambil pusing, Juan yang awalnya berdiri untuk merebut kacamata yang berada di genggaman Naomi, kembali menduduki diri. Juan mendadak tak peduli dengan keberadaan Naomi, ia malah mengambil ponsel pintar yang berada di saku celana sekolahnya dan memainkannya.

"Kamu mending pulang aja sana, buang-buang waktu aja kamu di sini." Tanpa sadar ucapan itu keluar dari mulut Juan.

Kacamata yang tadinya digenggam erat berubah menjadi lebih erat. Naomi mendengarnya, suara itu begitu kecil, namun juga keras. Air muka gadis itu semakin dibuat tak karuan oleh Juan.

Butiran air mata ingin keluar, namun tertahan akibat mengingat tujuan awal. Naomi menggigit bibir bawahnya pelan. Dengan sedikit keberanian, ia menarik salah satu kursi di dekatnya dan mendekatkannya ke samping Juan, lalu didudukinya kursi tersebut.

Naomi meletakkan pelan kacamata milik Juan di permukaan meja. Hening. Naomi tak ada keinginan untuk membuka percakapan dengan Juan, dan begitu sebaliknya.

Waktu terus berlalu, suara dentingan jam yang tertempel di dinding terdengar begitu jelas. Naomi tak tahu harus memulainya dari mana, semua pertanyaan yang ingin dilontarkan untuk Juan seketika hilang dalam sekejap akibat ucapan menyakitkan dari sang terkasih.

Salah satu tangan milik Juan secara tiba-tiba mengambil kacamata bulat miliknya, dan tanpa tidak sengaja jemari pemuda itu bersentuhan dengan jemari Naomi. Naomi awalnya tak begitu peduli, gadis itu malahan hanya memberikan lirikan tak suka pada Juan.

Juan yang merasa diberikan tatapan tak enak diliat akhirnya membuka suara, "kamu datang ke sini buat apa?" Tanyannya dingin.

Air muka Naomi tak bisa lagi menyembunyikan rasa kesal dan marah pada Juan, ia pun menjawab pertanyaan dari sang pemuda dengan sedikit nada suara dinaikkan, "huh? Apa katamu?!" Katanya menatap tajam Juan.

Mendengar itu, Juan menaruh ponsel pintarnya dan membenarkan posisi duduknya agar bisa berhadapan dengan Naomi. Keduanya saling menatap; netra gelap milik Juan menatap netra Naomi tak mau kalah, tetapi setelah beberapa detik kemudian pemuda itu dibuat mengalihkan pandang secepat kilat.

Entalah, mungkin Juan tak kuat melihat kekasihnya yang sedang kebingungan karena dirinya mendadak meminta mereka memutuskan hubungan melewati pesan teks.

Pada akhirnya Naomi duluan yang membuka suara, nada yang dikeluarkan terdengar begitu putus asa, “kak, ngomong yang jelas. Kenapa kamu minta putus tiba-tiba? Mana lewat pesan teks lagi, Kak Juan pikir itu lucu?”

Juan terdiam, ia bingung harus memberitahu Naomi dari mana. Terlalu banyak yang ingin diucapkan namun semuanya tertahan di ujung lidah karena takut melihat wajah sedih sang pujaan hati.

Menarik napas panjang, Juan menatap sang gadis penuh kasih, kedua tangannya menggenggam tangan Naomi lembut. “Naomi, aku mau pergi ke Jerman buat kuliah. Aku gak yakin bakal ada waktu buat ngabarin kamu. Aku bakal sibuk banget di sana, apa lagi kamu, kamu nantinya bakal naik kelas dua belas.” Juan terlihat memberikan jeda di sana, butiran air mata hampir terjatuh dari pelupuk matanya.

“Kak…”

“Aku gak bisa, Naomi. Berat. Bunda sama Ayah minta aku putusin kamu buat kebaikan kita berdua. Jangan salahin Bunda sama Ayah, mereka mau aku fokus buat belajar. Mereka gak benci kamu, mereka malah sayang banget sama kamu sampai-sampai mereka pengen yang terbaik buat kamu.” Lanjut Juan dengan ia menaruh permukaan wajahnya di atas tangan Naomi.

Telapak tangan Naomi terasa basah, hati gadis itu rasanya hancur berkeping-keping melihat Juan tak berdaya seperti ini. Kata-kata yang dilontarkan oleh Juan memang terdengar basi, tatapi saat melihatnya menangis di depannya membuat Naomi mau tidak mau harus mempercayai semua ucapan Juan.

Naomi hanya terdiam sembari menunggu tangis Juan mereda, ia tak banyak berpikir selama ia menunggu Juan. Tatapannya begitu sayu melihat kepala Juan di bawahnya. Beberapa menit telah berlalu, akhirnya tangis Juan mereda. Naomi pikir Juan akan mengucapkan beberapa kata yang membuat hatinya merasa tenang, namun yang ia dapatkan malah Juan berdiri dari posisi duduknya dan menuntun Naomi pergi ke arah pintu kelas Juan.

Netra gelap Naomi menatap mata sembab Juan, terlihat sangat jelas bila pemuda ini habis menangis. Jika hubungan mereka lagi tidak di posisi seperti ini, pasti Naomi sudah tertawa sangat keras melihat mata sembab Juan.

Kedua tangan Juan masih menggenggam tangan Naomi erat; terlihat tidak ingin berpisah. Naomi yang melihatnya hanya bisa tersenyum kecil, rasanya teringat masa awal-awal mereka menjalankan hubungan yang begitu menyenangkan. Saat Naomi ingin menanyakan bagaimana keadaan Juan sekarang, gadis itu malah mendengar kata-kata yang ia pikir indra pendengarannya tak akan lagi mendengarkannya.

“Kita akhiri aja ya? Aku berdoa semoga kamu dapat yang jauh lebih baik dari aku. Hati-hati di jalan, Naomi.” Ucap Juan dibarengi dengan senyum senduh di paras eloknya.


Biografi Penulis

Namaku Naswa Azizah Noor, biasa dipanggil Naswa, bukan Nazwa maupun Najwa. Aku dari kelas XI Multimedia. Menulis cerita fiksi adalah kegemaranku sejak SMP. Hal yang kusuka dalam menulis adalah aku bisa mengeluarkan imajinasiku yang banyak terkumpul di dalam isi kepalaku. Sebenarnya juga ada satu alasan yang sangat kuat kenapa aku masih nulis cerita sampai sekarang, alasannya adalah agar haluku menjadi jauh lebih lancar :D

KOMENTARI TULISAN INI

  1. TULISAN TERKAIT