A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: Division by zero

Filename: public/Readmore.php

Line Number: 37

Backtrace:

File: /var/www/vhosts/smkn2balikpapan.sch.id/httpdocs/website/application/controllers/public/Readmore.php
Line: 37
Function: _error_handler

File: /var/www/vhosts/smkn2balikpapan.sch.id/httpdocs/website/index.php
Line: 315
Function: require_once

Mata Pelajaran Tak Ternilai | SMK Negeri 2 Balikpapan

SMK Negeri 2 Balikpapan

Jl. Soekarno Hatta Gn. Samarinda Balikpapan

"Tiada Hari Tanpa Prestasi"

Mata Pelajaran Tak Ternilai

Senin, 19 September 2022 ~ Oleh kesiswaan ~ Dilihat 166 Kali

Oleh : ANF-K

“Kenapa sih Indonesia ngga kaya negara lain? Kenapa ngga kaya Singapore, Korea mungkin. Negara yang dengan gesitnya mampu menekan angka kematian?” Kata Teh Juan ketika kami – untuk kali pertama mentoring dalam bentuk virtual, pun kali kedua berbincang. Teh Juan adalah seorang world traveler dan pernah menjadi kontibutor Teh Jasmine- Kemuslimahan Lembaga Dakwah Kampus di Universitas Padjajaran. Teh Juan juga memberi pemahaman bahwa inisiatif adalah tolok ukur iman seseorang. “Bukti nyala atau engga nya iman kita itu, terletak seberapa tanggap kita mengambil inisiatif dalam hal baik.”. “girls, kita itu akademiknya harus hebat, organisasinya kuat, keTuhannya taat. Pokoknya sebanyak apapun rutinitas, Allah dan Rasul-Nya harus selalu jadi prioritas!” adalah nasehat-nasehat dari Teh Juan yang tak terlupakan. Bahkan detik ini – ketika aku menuliskannya, kalimat-kalimat itu masih terngiang.

“kalian pernah kepikiran ngga, kenapa sih lockdown harus terjadi di Indonesia? Bahkan pada detik-detik datangnya bulan mulia?” Teh Juan mengajukan tanya, yang sesungguhnya tidak untuk dijawab, melainkan memaksa kami untuk berpikir lebih dalam. Menjelajahi perenungan-perenungan untuk menggali hikmah dari keadaan sekitar.

“Sedih ngga?”

Kami mengangguk.

 “kenapa?”

Kami mendeskripsikan berbagai hal, tentang Ramadhan yang tak terlihat ramai, tak ada takbiran keliling, riuh orang memenuhi masjid, kajian-kajian di berbagai tempat, i’tikaf, bukber, termasuk kegiatan-kegiatan yang identik dengan kemanusiaan.

Teh Juan menarik napas, membenarkan.

“Tapi sungguh, dengan situasi seperti ini pun, Ramadhan akan menjadi Ramadhan yang sebelumnya. Ramadhan akan tetap dan selalu sama. Tetap akan banyak ampunan yang Allah turunkan, limpahan rahmat dan rahimNya, pun malam 1000 bulan akan tetap ada. Yang berbeda, keadaannya. Kita ngga bisa bareng-bareng...”  Kalimatnya menggantung.

“Mungkin Allah ingin menguji iman kita. Apakah kita tetap istiqamah meski sendirian? Apakah kita akan shalat tepat waktu meski tak ada teman atau rekan sejawat yang ngasih tau. Apakah kita akan selalu berada dalam kebaikan, meski tak ada orang yang melihat? Bukankah sahabat Ali Bin Abi Thalib RA dulu pernah bilang, kalau mau liat aslinya kita itu kaya gimana, cek aja apa yang kita lakukan ketika ngga ada orang.” Lanjutnya.

Pertemuan 1x40 menit itu membawaku kepada perenungan panjang. Sebanyak apapun langkah menjejak bumi, perjalanan terjauh tetap menelusuri diri sendiri. Tentang prioritas yang terbolak-balik. Banyaknya tugas dari segala arah, amanah di lembaga dakwah. Seringkali mengutuki keadaan ketika menemui kegagalan. Menyalahkan orang sekitar, padahal diri yang tidak sabar. Meracuni pikiran tentang kepergian orang-orang, seolah lupa bahwa Allah Maha berkehendak. Lupa bahwa ada bagian dalam proses kehidupan yang tak bisa dikendalikan.

Sampai saat ini, perenungan itu belum juga usai. Semenjak duduk di bangku kuliah dan bergabung pada organisasi dakwah, perjalanan ini ditemukan banyak arti. Perihal nilai-nilai yang hanya Maha pendidik yang memberikan. Nilai-nilai yang tidak aku temui pada kelas manapun dan SKS berapapun. Karena belajarnya setiap saat, dan ujiannya seringkali mendadak.

Untuk siapapun, jangan berhenti berprasangka baik. Sepedih apapun keadaan, semenyakitkan apapun kenyataan, maka tetaplah bertahan. Boleh jadi, Allah sedang memberikan mata pelajaran yang tak ternilai.

 

***

KOMENTARI TULISAN INI

  1. TULISAN TERKAIT