SMK Negeri 2 Balikpapan

Jl. Soekarno Hatta Gn. Samarinda Balikpapan

"Tiada Hari Tanpa Prestasi"

Tefa; Bukan SMK Rasa SMA!

Sabtu, 18 Februari 2023 ~ Oleh kesiswaan ~ Dilihat 814 Kali

Oleh: Didi Purnomo, MA*

Gagasan ini saya tuangkan ketika bisikan di telinga masuk dalam alam pikiran dan selalu terngiang-ngiang yaitu, arahan santai dari top manajemen kami saat menikmati malam Jumat di pekan kedua bulan Februari tahun 2023. Kejadianya ketika kami berada di sekitar bundaran Hotel Indonesia (HI), DKI Jakarta sekitar jam 22.30 WIB. Kami gunakan malam itu untuk menikmati suasana bundaharan HI karena esok harinya harus sudah kembali ke Balikpapan. Malam terkahir dalam rute studi praktik baik di beberapa SMK Unggulan di Jakarta.

Bundaran HI malam itu memukau sekali dalam pandangan saya, terkhusus halte Bis Trans Jakarta yang mirip sekali dengan kapal. Saya terakhir meninggalkan Jakarta tahun 2010 kala itu. Kini 2023, Jakarta wow banget perubahannya. Berdasarkan plakat yang dipajang di halte itu tertulis bahwa peristiwa pembakaran yang terjadi pada tahun 2020 dalam demonstrasi menolak pengesahan omnibus law, menjadi pertimbangan halte dibangun ulang yang kini menyerupai kapal luar angkasa, iconik sekali.

  

Terasa indah sekali malam itu. Saat kami menyusuri jalan di depan Plaza Indonesia, angin malam yang teduh ditambah penerang yang berwarna warni membuat manja dan betah pengunjung DKI di sekitar wilayah itu. Banyak manusia berseliweran, entah dari mana saja. Kami sempatkan berswa foto sebentar dengan perangkat gadget yang kami miliki. Beberapa saat kemudian, kami dihampiri beberapa orang yang mengaku diri sebagai mahasiswa menawarkan jasa foto dengan kamera DSLR yang mereka miliki. Terjangkau lah, Rp 4K untuk satu take.

Kami dapat 9 foto. Hasilnya, jangan tanya. Keren habis, mereka sudah terlatih. Kami sangat puas dengan jasa mereka. Kami punya kenang-kenangan berdiri di wilayah yang sebentar lagi tidak bisa disebut DKI karena akar berganti menjadi IKN di Kalimantan Timur.

Setelah sesi itu lah, top manajemen kami berbisik. “saya sudah pernah menyampaikan hal model begini di manajemen, siswa-siswa kita juga bisa dan alat belajar yang kita miliki sudah layak untuk mereka berwira usaha di spot-spot wisata Kota Balikpapan. Kapan mau dimulai…” Bisikan ini terus terngiang di alam pikiran saya. Saya tuangkan sekalian dalam tulisan dan dipublikasikan di web sekolah agar jejak gagasannya terekam. Bahwa ide wirausaha itu sudah disampaikan oleh Top manajemen Skada. Tinggal kami pasukan-pasukan inovasi di Skada mau segera aksi atau tidak.

Saran dan arahan top manajemen Skada malam itu, menemukan dasar pijakan yang jelas. Sejak tahun 2017, Direktoran Pembinaan SMK menggulirkan program revitalisasi dan Skada kebagian juga “kue” programnya dengan sasaran bidang Teknologi Informasi (TI) dan Bisnis. Kami sudah gunakan belanja alat kala itu. Oleh sebabnya, tepat pernyatakan top manajemen skada, “alat belajar kita sudah layak.”

Keseriusan pemerintah tahun itu dilengkapi panduan pula terkait tata kelola Pelaksanaan Teaching Factory (tefa). Yaitu, sebuah konsep pembelajaran kejuruan berbasis projek dari dunia industri. Konsep tefa merupakan menggabungkan belajar dan lingkungan kerja yang realistis dan memunculkan pengalaman belajar yang relevan. “Teaching factory concept as an approach that combines the learning and working environment from which realistic and relevant learning experiences arise” (Nayang Polytechnic, 2003).

Berdasarkan diskusi kecil kami pun di level guru kejuruan maupun manajemen, diakui memang bahwa praktik kerja lapangan (PKL) yang dilakukan siswa selama ini belum mencapai 50 % skill yang sesuai bidangnya. Seperti Jurusan TI namun melakukan kerja-kerja di PKL banyak menyelesaikan tugas di bidang arsip dan perkantoran. Nilai minimum yang siswa dapatkan, baru merasakan iklim kebekerjaan meski keterampilan kejuruan yang dipelajari di sekolah tidak berhubungan langsung.

   

Kenyataan-kenyataan diatas menjadi tantangan tim manajemen ke depan, memasuki tahun pelajaran 2023-2024. Berani beraksi dan keluar dari pemikiran lama dan mendukung program transformasi SMK yang 3 tahun sudah digulirkan oleh Dirjen Vokasi melalui skema SMK Pusat Keunggulan. Menjadikan tefa sekolah bertransformasi menjadi Badan Layanan Umum Daerah (BLUD). Dengan langkah-langkah itu, capaian-capain perubahan SMK menjadi lebih terukur. Berani untuk menentukan target pendapatan dari projek yang dimiliki melalui tefa di setiap program studi.

Hasil kunjungan studi praktik baik ke Jakarta di beberapa SMK unggulan sudah memberikan contoh nyata. Siswa di setiap program keahlian dilibatkan menjadi pengurus langsung dalam melaksanakan tefa. Target-target pendapatan dari projek diplenokan bersama mereka pula. Siswa mendapatkan pengalaman kerja sesuai bidangnya langsung serta dapat mengukur nilai jual dari projek yang dikerjakannya sendiri.

Sudah saatnya, alat-alat belajar yang didanai besar oleh pemerintah dan ada di sekolah menjadi latihan produksi-produksi siswa yang tentunya melalui bimbingan guru yang mau terus terbuka membangun jejaring dengan dunia industri maupun jalur kewirausahaan. Transformasi seperti itu menjadikan SMK punya warna yang jelas dan bukan meluluskan siswa yang rasa-rasa SMA.

Teruslah beraksi sahabat-sahabat inovasi Skada, jangan sampai kita dilabeli “truck trailler mogok” oleh mereka yang sudah melesat dengan program pusat keunggulannya. Salam pengabdian.

 

*Penulis adalah Guru Pendidikan Agama Islam Skada yang saat ini mendapat tugas tambahan sebagai Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum.

  1. TULISAN TERKAIT