SMK Negeri 2 Balikpapan

Jl. Soekarno Hatta Gn. Samarinda Balikpapan

"Tiada Hari Tanpa Prestasi"

Tentang Siswa di Masa Depan

Jum'at, 16 Juni 2023 ~ Oleh kesiswaan ~ Dilihat 1213 Kali

Lima atau sepuluh tahun mendatang, landcscap pendidikan di sekolah masih berada di Abad-21 dengan empat keterampilan inti layak dikuasai siswa agar hidup unggul didalamnya, sebagaimana para ahli katakan yaitu: Kritis-solutif, Kreatif-Inovatif, Komunikatif dan Kolaboratif. Pendidik yang mampu membimbing dan membekali siswa selama berada di sekolah dengan 4 keterampilan itu tandanya telah berhasil melaksanakan tugas profesionalismenya yang menurut Ki Hajar Dewan Tara diungkapkan dengan kemampuan menuntun siswa sesuai dengan kodrat alam dan zamannya.

Pola pendidikan Abad-20 telah berlalu dimana peserta didik telah berhasil digiring agar mengikuti kemauan kurikulum yang telah ditetapkan orang dewasa. Tidak keliru sepenuhnya karena kondisi zaman di abad itu setiap bangsa sedang berusaha menunjukkan eksistensinya keluar dari era kolonialisme.

Pengetahuan sebagai kekuatan sebuah bangsa belum menyebar luas di Abad-20 dan hanya dikendalikan oleh negara-negara Imperialis. Akses informasi pun sangat bergantung pada sosok guru. Oleh karenanya sudah pada tempatnya ketika orang dewasa mengatur kemauan para juniornya yang mana itu semua dimaksudkan agar eksistensi komunal dan bangsanya mampu bertahan dan lestari dalam pergaulan dunia.

Abad-21 adalah era banjir informasi, pengetahuan dan teknologi. Tunas-tunas bangsa sebuah negeri bisa menguasai banyak hal yang belum dimiliki orang-orang dewasa. Kondisi ini jelas telah menjungkirbalikan tatanan sosial Abad-20. Peserta didik hari ini dengan minat dan bakatnya dapat berselancar di jagat internet untuk mengembangkan dirinya secara mandiri tanpa bimbingan guru secara langsung. Berbagai tutorial yang membanjiri ruang digital mampu memenuhi rasa dahaga tunas baru untuk sebuah eksistensi yang tidak lagi dibatasi secara kaku oleh sekat gedung sekolah, bahkan teritori sebuah bangsa.

Abad-21 bukan lagi era modern namun postmodern menurut para Sosiolog. Era dimana otoritas tidak bisa dipercaya 100%. Sebagai contoh, sertifikat gelar kesarjanaan belum tentu menunjukkan pemilikinya pernah berfikir. Sertifikat adakalanya hanya menunjukkan seseorang pernah pergi ke sekolah/ perguruan tinggi namun belum tentu menunjukkan kompetensi bidang yang dipelajari. Fakta ini pernah diungkapkan Mas Menteri Nadiem Makarim, “Kita memasuki era dimana gelar tidak menjamin kompetensi, kelulusan tidak menjamin kesiapan berkarya, akreditas tidak menjamin mutu, masuk kelas tidak menjamin belajar.”

Beberapa korporasi dunia merespon cepat realitas Abad-21/ era postmodern dengan mengambil kebijakan dalam hal menjaring karyawan tidak lagi mensyaratkan memiliki ijazah namun langsung uji kompetensi. Mereka yang menunjukkan kemampuan terbaik sesuai bidang yang dibutuhkan lah yang akan diterima meskipun bukan lulusan sekolah/ perguruan tinggi.

Ketika semua kompetensi (hard skill) bisa didapatkan oleh peserta didik tanpa guru, lantas untuk apa lagi mereka datang ke sekolah? Ini pertanyaan mendalamnya. Setiap pendidik ditantang untuk bisa menjawabnya.

Ada yang tidak bisa didapatkan oleh pemelajar ketika sudah puas menguasai berbagai kompetensi dari jagat digital yaitu, makna dan nilai hidup di atas pentas bumi ini. Sekolah dalam hal ini punya tantangan menciptakan suasana itu. Yang lebih utama bisa dirasakan peserta didik ke sekolah adalah ia bisa merasakan sentuhan kemanusian, interaksinya dengan guru terasa bermakna karena ada saling pengakuan, talenta yang dimiliki siswa mendapatkan pentas kebermaknaan untuk sesama. Filosofi ini tepat menjadi pegangan manusia Abad-21 jika ingin hidupnya terasa bermakna, “sebaik-baik manusia adalah yang paling memberikan banyak manfaat kepada sesamanya.”

Guru di sekolah yang hanya bermodalkan transfer hard skill atau mengajarkan pengetahuan saja sudah tidak bisa diharapkan karena peran itu sudah bisa digantikan dengan internet. Guru Abad 21 adalah mereka yang mampu menjadikan interaksi dengan peserta didik sebagai sarana transfer nilai kemanusian atau sikap (soft skill). Siswa mendapatkan tempat yang subur di sekolah bagi tumbuh kembang rasa aman, merdeka mengembangkan bakat minatnya, tempat saling menguatkan kemanfatan potensi bawaan yang dimiliki dan merasakan sendiri kemana arah hidup setelah punya berbagai kemampuan dan pengetahuan (hard skill).

ENESCO sebagai organisasi dunia bidang pendidikan, sains dan budaya sudah merespon dinamika Abad-21 dengan merumuskan empat pilar pembelajaran. Satuan pendidikan tepat bila mau merespon dan mengimplementasikannya yaitu, belajar untuk mengetahui (learning to know) belajar agar terampil melakukan sesuatu (learning to do), belajar untuk menjadi sesuatu (learning to be) dan yang terakhir, belajar untuk menjalani kehidupan bersama (learning lo live together).

Empat kompetensi dan empat pilar pendidikan yang tersaji pada paragraf-paragraf diatas formulasi yang akan menjadikan siswa, sosok manusia sesungguhnya ketika berada di sekolah. Berpengetahuan dan berbudi ringkasnya. Lima hingga sepuluh tahun ke depan maka sekolah yaitu tempat yang ramah bagi siswa merasakan kebahagian belajar, bertumbuh, dan menghayati eksistensialnya. Bahagia karena bakat dan minatnya mendapat tempat untuk dibimbing meraih prestasi emas fersi mereka dan prestasi emas yang dimiliki mampu memberikan kebaikan bagi banyak orang untuk bersama-sama menciptakan tatanan dunia damai dan saling menguatkan.

 

Keterangan:

Penulis Didi Purnomo, MA. Guru PAI SMKN 2 Balikpapan. Artikel ini bagian dari tugas dalam Diklat Calon Guru Penggerak angkatan 8. Konten artikel yang bagus sayang bila disimpan di LMS saja. Yang sedikit ini semoga berkenan.

KOMENTARI TULISAN INI

  1. TULISAN TERKAIT