Sampai pada titik belajar tentang budaya positif dalam seri modul 1 program guru penggerak (PGP), membuat saya semakin yakin berada di tengah teman-teman yang memang jauh sebelum ada PGP sudah menjadi basis guru bersemangat di asal satuan kerja masing-masing untuk terus meningkatkan kapasitas diri agar layanan mereka kepada peserta didik sesuai dengan kodrat alam dan zaman murid. Setiap tugas yang kami lalui menjadi wahana yang menyenangkan untuk saling menguatkan dan berbagi praktik baik memberikan layanan pendidikan kepada tunas-tunas muda Indonesia dalam bertumbuh menemukan jiwa kebergunaannya bagi sesama hidup.
Saat Ki Hajar Dewantara (KHD) mengibaratkan seorang pendidik seperti petani yang dengan tulus merawat tanamannya, berkumpul dengan CGP angkatan 8 baik dalam sesi daring bersama fasilitator pembelajaran maupun pengajar praktik bulanan di sesi luring membuat saya bertemu dan merasakan langsung pribadi yang dianalogikan KHD ada pada diri mereka. Bukan sekedar cerita, bukti-bukti nyata aksi baik dalam pengabdian mereka kepada pelanjut misi kemanusian dan peradaban terabadikan lewat foto maupun vidio yang terungkap baik dalam obrolan santai maupun pemaparan tugas kelompok. Iklim positif ini alasan kuat saya pribadi berkomitmen menuntaskan semua gemblengan program guru penggerak.


Iming-iming menjadi kepala sekolah bagi mereka yang lulus dalam PGP, baik yang dinyatakan langsung oleh pengelola balai maupun legalitas yang tertuang dalam peraturan/ keputusan menteri tidak terlalu menjadi magnet bagi diriku tetap berada dalam CGP angkatan 8. Faktanya, menjadi kepala sekolah punya kompleksitas masalahnya sendiri dan pendidikan 6 bulan dalam PGP bisa jadi hanya membekali tidak lebih dari 10 % dalam menjawab tantangan sebagai kepala sekolah. Selebihnya yang perlu dimiliki seorang pembelajar sejati baik sebagai kepala sekolah maupun pemimpin pembelajaran adalah ketangguhan menghadapi tekanan permasalahan yang datang silih berganti. Apa pun kelak tugas yang diamanahkan di pundak ini, sebagai pendidik yang tumbuh karena panggilan hati bergerak ikut mencerdaskan kehidupan bangsa, visi-misinya tidak akan berubah, selalu berpihak kepada kebutuhan belajar siswa agar mereka mampu bertumbuh menjadi insan yang bahagia di tengah masyarakatnya.
Nilai-nilai yang diprogramkan Kementerian pendidikan dalam cakrawala pikir calon guru penggerak berupa mandiri, reflektif, inovatif, kolaboratif dan berpihak kepada murid saya yakini sebagai sepaket perangkat lunak yang menjadi imunisasi ketangguhan seorang pendidik. Tidak cukup sampai disini, guru penggerak akan terus belajar dari sejawat, hal-hal baru, dan lingkungannya agar daya tahannya terus teruji meski jauh dari pujian orang lain alias tidak menunggu sanjungan orang lain untuk terus memperbaiki layanan belajarnya kepada peserta didik. Prakarsa perubahan yang dimilikinya senantiasa ditinjau ulang agar sejalan dengan kodrat siswa maupun tantangan zaman tunas-tunas muda yang dibimbing.


Permasalahan yang dihadapi peserta didik bisa jadi sama dari zaman ke zaman seperti, datang ke sekolah terlambat, terlibat perkelahian pelajar, tidak memperhatikan arahan guru, melanggar tata tertib sekolah dan tindakan kurang disiplin lainya. Ini lah alasan profesi seorang pendidik agar senantiasa ada di setiap zaman. Pendidik hadir di tengah masyarakat untuk merawat nilai kemanusian yang universal. Pendidik yang memilih guru sebagai jalan profesinya tidak akan terpengaruh dengan berbagai hambatan dalam misi melahirkan manusia-manusia baru yang berbudi luhur meski bagi pihak lain dianggap sebagai beban berat profesinya. Setiap profesi ada resikonya. Mereka akan fokus menemukan faktor intrinsik dari dalam diri peserta didik dan berusaha menumbuhkannya agar jiwa positifnya berkembang terus dan melemahkan kodrat negatif yang juga terdapat dalam diri setiap manusia.
Sejak mengenal konsep restitusi dalam merespon prilaku tidak disiplin peserta didik, saya terus berusaha mengasah kemampuan baru ini dan mengabadikannya dalam bentuk vidio. Berikut kasus terbaru yang saya praktikan: https://drive.google.com/drive/folders/1TmXGInVfC86iGrGuWfK_3dv69EpwKtij?usp=sharing. Bisa jadi masih belum ideal. Biarlah seiring praktik yang saya terus lakukan, pola restitusi dalam upaya mendorong budaya positif di satuan kerja sendiri bisa semakin meluas pengaruhnya. Sengaja saya vidio kan biar peserta didik ikut mengetahui bahwa guru mereka memiliki bukti digital pernah melakukan pembinaan terhadap hal tidak sesuai kesepakatan yang telah dilakukan.
Copyright © 2017 - 2026 SMK Negeri 2 Balikpapan All rights reserved.
Powered by sekolahku.web.id