SMK Negeri 2 Balikpapan

Jl. Soekarno Hatta Gn. Samarinda Balikpapan

"Tiada Hari Tanpa Prestasi"

Pemimpin itu Mampu Melihat Peluang bukan Cuma Hambatan

Minggu, 08 Oktober 2023 ~ Oleh kesiswaan ~ Dilihat 523 Kali

Oleh: Didi Purnomo

“Jangan tanyakan apa yang negara berikan kepadamu, tapi tanyakan apa yang kamu berikan kepada negara.”

John F. Kennedy

Kutipan pidato dari John F. Kennedy itu begitu populer dan mampu dikenal oleh oleh banyak manusia di bumi ini. John F Kennedy mengungkapkan itu pada tahun 1960an dan hingga Abad-21 ini sering menjadi kutipan pidato-pidato para pemimpin di berbagai level.

Program guru penggerak (PGP) didesain agar pesertanya menjadi pemimpin pembelajaran. Maksudnya guru-guru yang telah berproses di program itu dikondisikan agar menjadi pribadi yang senantiasa berusahan untuk mengembangkan diri/ selalu belajar agar layanan pendidikan yang diberikan kepada murid menjadi berkualitas. Dampak hulu dari PGP yaitu guru mampu menuntun peserta didik tumbuh kembang menurut kodrat alam dan zamanya.

Muatan konten belajar modul 3.2 pada PGP membahas tentang “Pemimpin dalam Pembedayaan Sumber Daya”. Secara spesifik muatannya bertujuan agar calon guru penggerak (CGP) memiliki pengetahuan tentang faktor-faktor yang mempengaruhi ekosistem sekolah, memiliki kemampuan membedakan dua pendekatan dalam memetakan sumber daya yaitu basis aset dan masalah dan memiliki pemahaman tentang cara pengelolaan sumber daya di sekolah untuk berkembang lebih baik.

Sekolah sebagai institusi moral memiliki ekosistem juga sebagaimana analogi rantai makanan dalam konteks biologi.  Di sekolah terdapat interaksi antara faktor biotik dan abiotiknya. Di satuan pendidikanlah tempat berinteraksi antara siswa, guru, tenaga kependidikan, orang tua siswa, komite, dan birokrat pendidikan. Dengan memahami keberadaan ekosistem ini, seorang pemimpin pembelajaran di satuan pendidikan memiliki sudut pandang yang holistik agar komunitas yang dipimpinnya dapat berkembang selaras dan harmonis.

Faktor kepemimpinan dan kaitannya dengan pengembangan komunitas, terkhusus lagi pada satuan pendidikan memiliki sedikitnya dua cara pandang dalam merespon tantangan yang dilaluinya. Cara pandang pertama yaitu merespon tantangan sebagai suatu masalah atau kekurangan. Sebagai contoh seorang kepala sekolah yang mengeluhkan program literasi sekolah tidak berkembangan dengan baik karena kualifikasi guru yang dimiliki rendah, tidak punya perpustakaan digital, dan siswa-siswanya kurang berminat. Pendekatan ini memandang tantangan dihadapannya berat untuk dilampaui. Cara pandang kedua yaitu, merespon tantangan berbasis kekuatan aset yang dimiliki. Cara pandang ini memahami ada tantangan di depannya dan bisa jadi berat namun bisa dilampaui dengan memaksimalkan kekuatan aset yang dimiliki. Kata pepatah, tiada rotan, akar pun jadi.

Keberadaan satuan pendidikan sebagai komunitas moral punya kebutuhan untuk terus berkembang. Dalam artian, sekolah itu hadir di tengah masyarakat untuk memberikan layanan pendidikan yang memberikan iklim sehat dan aman bagi tumbuh kembangnya generasi-generasi pelanjut kehidupan atau eksistensi masyarakat tempatnya berada. Pemimpin komunitas yang benar dalam tindakannya memahami betul bahwa di balik kekurangan yang dimiliki dalam ekosistem yang dikelolanya tetap ada potensi aset/ sumber daya yang dapat dihandalkan dalam menghadapi setiap tantangan dan hambatan yang berkembang. Meminjam telaah Cunningham (2012) dalam memahami tindakan komunitas itu, dikenal lah proses fasilitator yang menggerakan sumber daya mereka sendiri alias tidak menunggu intervensi eksternal memberikan bantuan.

Pemimpin sebuah komunitas dapat merefleksikan organisasinya apakah ekosistem yang berlangsung didalamnya dalam kondisi sehat dan tangguh untuk terus berkembang dengan menganalisa delapan karakteristinya. Kedelapan karakteristik berikut merujuk konsep yang dikembangkan oleh Bank of I.D.E.A.S (2014).

Pertama, ada dialog dan partisipasi anggota komunitas. Mereka menghargai keragaman untuk sama-sama bertumbuh.

Kedua, memiliki komitmen terhadap tempat. Maksudnya anggota komunitasnya siap bekerja sama untuk mencapai sebuah tujuan berkumpul.

Ketiga, ada koneksi dan kolaborasi. Maksudnya sebuah komunitas ini terbuka untuk membangun jejaring kerjasama dengan pihak eksternal untuk bebagi benefit yang adil.

Keempat, sumber daya yang dimiliki termanfaatkan atau tidak dibiarkan pasif. Pemimpin komunitas mengetahui momen-momen yang tepat mendayagunakan sumberdaya yang dimiliki untuk merespon tantangan pada situasi yang beragam.

Kelima, setiap anggota komunitas mengetahui visi organisasinya. Tidak terjebak pada rutinitas namun mengenal dengan baik kemana arah yang dituju dari kehadiran komunitas untuk bersatu.

Keenam, setiap anggota komunitas proaktif memproduksi ide-ide baru untuk keberlangsungannya. Situasi baru membutuhkan ide dan gagasan baru meski pengalaman salah satu referesi terbaik menyelesaikan tantangan organisasi.

Ketujuh, setiap anggota komunitas memiliki optimisme dan bertanggung jawab dengan posisi yang telah diberikan untuk perubahan yang lebih baik. Krisis bisa dialami oleh setiap komunitas, namun sikap tanggung jawab akan menjadi bahan bakar/ energi internal organisasi untuk segera pulih.

Kedelapan, ada distribusi dan regenerasi kapasitas kepemimpinan. Maksudnya tidak ada sumber daya yang telalu lama berada dalam satu posisi jabatan alias maksimal dua priode. Rotasi jabatan dan kewenangan menjadikan setiap anggota komunitas mau terus belajar dan anti berada pada zona pasif.

Komunitas yang sehat dan tangguh siap terus bertumbuh menggapai tujuan eksistensinya. Kepala sekolah sebagai pimpinan komunitas di level satuan pendidikan atau miniatur masyarakat memiliki setidaknya tujuh aset utama yang dapat difungsikan menjawab setiap tantangan roda organisasinya. Tujuh aset itu yaitu: modal manusia, modal sosial, modal politik, modal agama-budaya, modal fisik, modal lingkungan alam dan modal finansial. Tujuh aset itu hasil analisa Green dan Hanines (2016), sebagai peneliti pengembangan komunitas.

Seperangkat konsep kepemimpinan yang terdapat pada modul 3.2 PGP sangat disayangkan bila dilewatkan oleh para insan pendidik yang memiliki panggilan jiwa berprofesi sebagai guru. Berada dalam porgram PGP ini menjadikan pesertanya paham posisinya sebagai pemimpin pembelajaran yang pastinya telah berhasil menghayati maksud isi pidato yang pernah disampaikan oleh Jhon F. Kennedy. Guru Penggerak insyallah yang akan mengharumkan pendidikan Indonesia. Selalu ada kekurangan dalam dunia pendidikan, Guru Penggerak dihadirkan untuk menjadi bagian solusi atas tantangan pendidikan bangsa berselancar di Abad-21 dan siap mendukung visi Indonesia 2045 masuk sebagai lima besar kekuatan ekonomi di dunia dengan meluluskan sumber daya manusia berkarakter Pancasila.

KOMENTARI TULISAN INI

  1. TULISAN TERKAIT