A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: Division by zero

Filename: public/Readmore.php

Line Number: 37

Backtrace:

File: /var/www/vhosts/smkn2balikpapan.sch.id/httpdocs/website/application/controllers/public/Readmore.php
Line: 37
Function: _error_handler

File: /var/www/vhosts/smkn2balikpapan.sch.id/httpdocs/website/index.php
Line: 315
Function: require_once

Sekolah Baru | SMK Negeri 2 Balikpapan

SMK Negeri 2 Balikpapan

Jl. Soekarno Hatta Gn. Samarinda III Balikpapan

"Tiada Hari Tanpa Prestasi"

Sekolah Baru

Selasa, 21 September 2021 ~ Oleh admin_web ~ Dilihat 148 Kali

         Bagi semua orang, pindah sekolah adalah hal yang menyenangkan, salah satunya memiliki banyak teman. Namun tidak untuk Nanda. Nanda pindah sekolah karena orang tuanya sedang perpindahan tugas. Nanda adalah seorang yang bisa dibilang culun karena menampilannya yang sangat kaku. Ia juga memiliki sifat yang pendiam dan pemalu.

          Hari ini adalah hari pertamanya bersekolah di sekolah barunya. Saat tiba di depan gerbang sekolah, Nanda merasa sangat gugup. Namun ia memberanikan diri untuk masuk sekolah tersebut. Suasana lumayan sepi karena waktu masih menunjukkan pukul tujuh. Nanda segera menuju ruang kepala sekolah.

“Maaf, Bu, Kepala Sekolahnya ada?” tanya Nanda kepada seorang guru yang tengah jaga di piket.

“Kepala Sekolah belum datang, Nak. Tunggu saja dulu ya,” jawab guru tersebut.

Nanda pun segera duduk di bangku depan Kepala Sekolah. Suasana mulai ramai, namun Kepala Sekolah belum datang. Beberapa siswa melihat dengan tatapan tidak suka dan benci kepada Nanda. Namun, Nanda mengabaikannya. Beberapa menit kemudian, Kepala Sekolah datang.

“Anak baru, ya?” tanya Kepala Sekolah sembari menunjuknya.

“Iya Pak, benar,” jawabnya tersenyum.

“Ayo, masuk!” pinta Kepala sekolah, dan Nanda mengikutinya.

 Setelah selesai, Nanda segera ke kelasnya bersama wali kelasnya.

“Nama kamu, Nanda, bukan?” ucap guru tersebut

“Iya, Bu. Benar, nama saya, Nanda” jawabnya sembari tersenyum

“Kenalkan, nama ibu, Rina. Panggil saja Bu Rina” kata Bu Rina. Setelah sampai di kelas, seketika semua murid yang tadinya ribut berubah hening. Nanda mengikuti guru tersebut dari belakang.

“Selamat pagi semua” sapa Bu Rina membuka percakapan.

“Pagi, Bu” jawab mereka serentak.

“Nah, kalian sekarang punya teman baru. Ayo, kenalkan diri kamu!” ucap Bu Rina menyilakan Nanda maju.

“Halo semua, perkenalkan nama aku Nanda Dinan Alvandi. Kalian bisa panggil aku Nanda,” ucapnya sembari tersenyum.

“Ga ada yang nanya, sih,” celetuk salah satu murid laki-laki. Serentak mereka semua yang ada didalam kelas tertawa. Nanda hanya tersenyum miris.

“Kalian tidak boleh begitu! Atau kalian semua saya hukum keliling lapangan sepuluh kali, mau?” ucap Bu Rina dengan nada tegas. Seketika mereka semua terdiam.

“Bagus, sekarang Nanda bisa duduk di kursi belakang itu ya,” Bu Rina menyilakan Nanda sembari menunjuk kursi yang ada di belakang. Nanda hanya tersenyum dan segera pergi menuju ke kursi yang Bu Rina tunjuk. Namun dengan sengaja kaki salah satu murid perempuan menyandung kaki Nanda. Hampir saja Nanda tersungkur.

“Eh sorry, ya,” ucap murid perempuan tersebut dengan santai. Nanda hanya menghela napas dan kembali menuju kursinya.

          Pelajaran pun dimulai. Mereka semua disuruh mencatat apa yang ada di papan tulis. “Weh culun, pinjam pulpen mu dong?” pinta seorang siswa laki-laki bernama Putra.

“Iya, sebentar.” Nanda membuka tasnya mengambil kotak pensil dan mengeluarkan sebuah pulpen.

“Ini,” ucap Nanda.

“Halah, kelamaan!” tukas Putra sembari merampas pulpen dari Nanda. Kemudian dia kembali menghela napas.

Baru saja masuk sekolah sudah seperti ini, bagaimana kedepannya? Nanda membatin.

          Bel berbunyi menandakan jam istirahat. Nanda tidak keluar kelas karena ia membawa bekal. Ketika Nanda membuka bekal, beberapa perempuan masuk kedalam kelas dan menghampiri Nanda.

“Wih wih, ada murid baru nih lagi makan, minta dong?” ucap Citra ketua geng mereka. Citra langsung saja mengambil sendok yang dipegang oleh Nanda dan segera mencicipi makanan Nanda.

“Enak sih, tapi lebih enak kalo dikasih ini!” Citra mengambil sebuah minuman berserat jeruk dan menumpahkannya dibekal Nanda. Nanda hanya tersenyum miris melihat itu. Makanan yang dimasak oleh ibunya sepenuh hati, jadi terbuang karena ulah teman sekelasnya ini. “Dimakan ya, sampai habis!” ucap Citra dan bergegas keluar kelas. Saat itu juga, Nanda menangis karena yang ada dikelas hanya dia. Tidak ada yang melihatnya.

          Pelajaran dimulai kembali. Nanda yang tidak makan akhirnya membuat maagnya kambuh.

“Ibu saya izin ke UKS,” pinta Nanda sambil mengangkat tangan. Ibu Dinda, guru bahasa mereka menoleh

“Kamu kenapa Nanda? Sakit? Ya sudah, ke UKS saja,” ucap Bu Dinda. Nanda pun berdiri. Namun sebelum berdiri ada satu murid yang mengangkat tangan

“Bu, saya izin menemani Nanda” ucap murid perempuan itu.

“Baik, silakan,” Bu Dinda mengijinkan. Murid perempuan itu dengan segera membantu Nanda keluar kelas.

“Kamu benar ingin menolongku?” tanya Nanda

“Iya benar, Nan. Aku takut kamu kenapa-napa,” jawab perempuan tersebut

“Makasih, ya. Oh iya, kita belum kenalan. Nama kamu, siapa?” tanya Nanda penasaran

“Nama aku, Yara,” jawabnya sambil tersenyum.

          Mereka pun sampai di UKS dan Nanda segera membaringkan badannya. Yara sedang mengambil termometer dan minyak kayu putih untuk Nanda.

“Gimana bisa sampai sakit sih, Nan?” tanya Yara sembari menyelipkan termometer di ketiak Nanda, dan memberi minyak kayu putih ke hidung Nanda.

“Aku kasih tau kamu, tapi diam diam aja ya Ra!” pinta Nanda. Yara mengangguk. Nanda menceritakan semuanya bahkan yang saat dia disandung sampai minuman yang sengaja ditumpahkan di bekalnya.

“Jadi, karna itu kamu ga makan? Wah, terlalu mereka. Ini udah termasuk pembullyan, Nanda. Ayo, lapor ke guru!”seru Yara. Namun Nanda menahannya.

“Sstt, kan aku udah bilang diam-diam saja” Nanda menyuruh Yara bungkam agar masalah ini tidak menjadi lebih besar.

          Bel pulang berbunyi. Nanda segera pergi dari UKS dan menuju ke kelas untuk mengambil tasnya agar bisa segera pulang. Namun di tengah jalan, Nanda menemui beberapa orang laki laki, salah satunya ialah Putra.

“Itu dia bro!” ucap Putra

“Weh sini, lo!”

         Nanda pulang, tetapi badan dia habis dipukuli oleh teman-teman Putra. Beberapa jam yang lalu, Nanda dipukuli oleh gengnya Putra karena Dika sebagai ketua gengnya itu telah mengincar Yara sejak lama. Dika marah karena Yara pergi menemani Nanda ke UKS. Walaupun hanya mengantar, Dika tidak suka ada laki laki yang mendekati Yara. Nanda segera memasuki rumah yang dapat dibilang sederhana. Rumah lantai dua dengan garasi dan tidak terlalu luas, cukup untuk mereka berempat. Ya, Nanda memiliki adik perempuan bernama Elsa yang masih berumur 5 tahun. Biasanya Elsa ikut dengan Papa atau Mamanya.

          Nanda segera membuka pintu kamar dan membaringkan dirinya. Dia lelah hari ini. Nanda segera bangun lagi dan melihat mukanya yang lebam akibat dipukul tadi. Perutnya pun berbunyi, dan Nanda segera mandi. Usai mandi, ia segera memesan makanan karena dirumahnya tidak ada pembantu dan orang tuanya tidak menyediakan makanan. Mungkin pada malam hari dan pagi hari saja. Tidak menunggu waktu lama makanan Nanda telah datang dan ia langsung memakannya di dalam kamar. Selesai makan Nanda mengerjakan PR yang diberi guru tadi dan tidur dengan muka yang menutupinya.

          Pagi harinya, dia bangun dengan Mamanya yang menangis membelakangi Nanda. “Mama kenapa nangis?” tanya Nanda sembari mengucek matanya.

“Itu muka kamu kenapa, Nanda!” Isak Mamanya sehingga Nanda tersentak. Ia lupa bahwa wajahnya masih lebam setelah dipukuli teman-temannya kemarin. Nanda segera menghampiri Mamanya dan menceritakan semua yang terjadi di sekolahnya kemarin. Mamanya marah besar dan dengan segera Mamanya kesekolah serta melaporkan kejadian ini.

“Kamu tunggu sini! Mama mau kesekolah. Kamu tidak usah masuk sekolah dulu hari ini!” tegas Mamanya dan mengambil kunci mobil. Nanda hanya bisa pasrah. Jika tidak begini, pasti mereka akan bertindak lebih jauh.

          Di sekolah, bel masuk telah berbunyi dan anak anak siap untuk belajar.

“Tumben si Culun ga masuk” ucap Putra sembari tertawa. Sedangkan Yara khawatir apa yang terjadi dengan Nanda. Ibu Rina masuk, semua murid bingung karena ini bukan pelajaran Bu Rina.

“Loh, Bu, ini kan bukan pelaja...“

“Diam kamu!” potong Bu Rina.

”Tadi ibunya Nanda datang ke sekolah dan melaporkan anaknya dibully oleh teman kelasnya sendiri” ucap Bu Rina dengan nada tegas dan wajah yang tidak bisa dibaca lagi.

“Yang membully Nanda, angkat tangannya segera!” teriak Bu Rina. Tidak ada yang mengangkat tangan.

“Jika tidak ada yang mengangkat tangan, saya tidak akan naikkan kalian semua ke kelas dua belas!” serunya lagi. Semua murid protes dan menyuruh siapa yang melakukannya mengangkat tangan. Serentak Dika, Putra dan Citra mengangkat tangan dan menyuruh gengnya juga mengangkat tangan.

“Maju kalian kedepan!” tegas Bu Rina. Mereka semua maju dan diteriaki oleh beberapa murid. Yara hanya bisa terdiam bergeming.

“Besok kalian semua harus meminta maaf dengan Nanda!” ucapnya lagi dengan nada tegas sembari menunjuk mereka semua dan mereka hanya mengangguk.

          Beberapa hari kemudian, Nanda kembali masuk sekolah. Lebamnya sudah mulai membaik. Nanda sampai di depan kelas. Ada rasa takut dan trauma, tetapi dia memberanikan diri untuk masuk. Kelas terlihat sepi dan gelap. Lampu dinyalakan dan, “supriseee!” teriak murid-murid yang kemarin membully Nanda. Yara segera menghampiri Nanda dan mengajak duduk dikursi yang telah disediakan. Putra , Dika, Citra dan gangnya berdiri di depan Nanda dan berkata, “Nanda, kami minta maaf telah membully kamu kemarin. Kami menyesal dan kami ingin berteman dengan kamu. Kamu, mau?” kata Putra. Nanda mengangguk. Semua bernapas lega.

“Aku memaafkan kalian semua, tetapi jangan diulang lagi ya!” ucapnya sambil tersenyum. Semua mengangguk. Akhirnya mereka berteman dan Nanda tidak dibully lagi.

         Disini, kita belajar bahwa kita tidak baik membully orang. Apakah itu karena penampilan mereka jelek ataupun sikap mereka yang tergolong pendiam dan tertutup. Untuk yang dibully, jangan sungkan untuk melaporkan hal ini kepada orang dewasa, karena bullying adalah tindakan yang berbahaya.

 

 

 

Biografi penulis. 

Halo semua! Perkenalkan, nama aku Muhammad Fadil Fernanda. Biasa dipanggil fadil. Aku bersekolah di SMKN 2 Balikpapan jurusan Akuntansi dan Keuangan Lembaga. Tidak ada yang menarik dari aku , tetapi aku memiliki hobi menonton K-drama, Movie, Dance dan juga membaca Wattpad. Oh iya, kalo kalian mau mutualan IG, bisa follow IG aku (@fadil.6672_). Aku punya mimpi agar bisa menjadi juara di kelas. Doakan ya guys, biar bisa jadi juara kelas.

 

penulis, Muhammad Fadil Fernanda

KOMENTARI TULISAN INI

  1. TULISAN TERKAIT
...

Drs. Rusjanto

Assalamu'alaikum wr.wb Alhamdulillah, Puji Syukur kami panjatkan kehadirat-Mu Ya Allah Tuhan Yang Maha Esa atas segala Nikmat dan Karunia yang…

Selengkapnya

JAJAK PENDAPAT

Bagaimana pendapat anda dengan tampilan web ini ?

LIHAT HASIL