Hujan yang semakin deras membuat seorang anak perempuan menikmati tidur dengan memakai selimut yang menutupi seluruh tubuh. Tiba-tiba ia dibangunkan oleh nada dering ponsel pintarnya. Ia terbangun, mengambil benda pipih itu “halo.” Katanya serak. "YA TUHAN AMORAA, KAMU DARI TADI TIDUR?! INI UDAH SETENGAH DELAPAN RAA!!"
Ya, dia Amora. Perempuan kelahiran 2005 yang gemar bernyanyi. Pagi ini ada perlombaan yang harus dia ikuti. Namun na'as ia lupa untuk mengaktifkan alarm tadi malam.
Amora tersentak. Sepagi ini sudah dapat omelan dari sahabatnya. Segera Amora mencuci muka dan berganti pakaian. Mama Amora yang melihat anaknya hanya geleng-geleng kepala.
"Amora makan dulu nak" Ucap Mama Amora, Dena
"Aduh Ma, aku udah terlambat lagian mama kenapa ngga bangunin Mora sih?!" Amora sedikit kesal dengan mama karena tidak membangunkannya.
"Ini kan hari Sabtu nak, kamu libur. Lagian di luar juga lagi hujan" Dena menjelaskan.
Amora memutar bola matanya jengah. Diraihnya kunci motor dengan kasar, lalu berangkat tanpa berpamitan dengan mamanya.
Amora berangkat dengan motor miliknya, jam sudah menunjukkan pukul 07.45 sementara lomba akan di mulai pukul 08.00. Durasi perjalanan menuju tempat perlombaan paling lama 8 menit. Amora fokus mengendarai sepeda motornya dengan kecepatan maksimal. Namun tiba-tiba ada seekor kucing menyebrang di hadapannya.
"AAAA!!" Amora yang sudah tidak bisa mengendalikan motornya langsung mengarahkan stang motor ke arah kiri, ia terseret sejauh dua meter.
Orang-orang yang melihat Amora kecelakaan langsung membantu. Amora sudah tidak memikirkan lombanya ia hanya ingin pulang ke rumah. Untung saja ada pengendara yang ingin mengantarkan pulang.
Sesampainya di rumah ia berterima kasih kepada orang yang sudah menolongnya. Ia melihat motor miliknya banyak sekali lecet di bagian kiri, Amora hanya bisa menghembuskan napasnya kasar.
Amora berjalan memasuki rumahnya dengan 1 kaki yang terluka sehingga ia berjalan pincang, "Maa..".
Dena keluar dari kamarnya dengan wajah terkejut melihat Amora yang terluka, "Loh Mora kenapa?"
Amora berhambur memeluk mamanya, "Maafin Mora ya ma! Maafin Mora! tadi pagi udah marah- marah ngga jelas sama mama, Mora juga ngga pamitan pas mau pergi" Mora terisak.
Dena melepaskan pelukan lalu mengelus kepala anak gadisnya, "Udah ngga papa, kamu kenapa nangis gini ih, masa anak mama cengeng"
Dena menuntun Amora untuk duduk di sofa ruang tamu lalu ia mengambil kotak P3K, di obatinya luka Amora, "Ini kenapa bisa luka kaki kamu?"
"Tadi Mora ngebut terus tiba-tiba ada kucing lewat, Mora ngehindar jadinya luka gini" Dena tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
"Ini pasti gara-gara Mora kasar sama mama tadi pagi, maafin Mora ya ma" Dena mengangguk dan tersenyum, sembari mencoba fokus mengobati luka Amora.
Amora merasa lega lalu ia mengambil ponselnya di dalam tas, dilihatnya ada sepuluh panggilan tak terjawab dari Nara. Belum saja ia membuka kunci hp nya tiba- tiba Nara kembali menelpon, "Raa lomba nya diundur minggu depan, Jurinya kecelakaan jadi ga bisa hadir, lu belum sampe kan?" Nara mengkonfirmasi.
Amora tersenyum lalu menjawab, "Belom kok Nar, aku masih di rumah"
"Bagus deh Ra, ku matiin ya telpon nya mau pulang"
"Iya hati-hati ya, Nar" Sesaat setelah mendengar penuturan Amora, Nara langsung mematikan panggilan.
"Lombanya di undur ma" Ucap Amora kepada mamanya.
"Kamu ni tumbenan mau lomba ngga kasi tau mama, biasanya ngasih tau kalo mau lomba" Amora cengengesan ia benar-benar lupa memberi tahu mamanya.
"Ya sudah mending kamu makan dulu, makanannya udah mama siapin tapi kayaknya sudah dingin mama panasih dulu ya".
Lagi, Amora menitikkan air mata. Terharu melihat sikap mamanya. Barangkali seorang Mama memang diciptakan seperti itu; hati yang begitu mudah menerima maaf dari anaknya. Amora benar-benar menyesal sudah bersikap tidak baik kepada mamanya. Amora menjadikan hal ini sebagai pelajaran dan bertekad selalu berbuat baik kepada mamanya. Selamanya.
Karya : Dini Zalika Putri - XI BDP 1
Copyright © 2017 - 2026 SMK Negeri 2 Balikpapan All rights reserved.
Powered by sekolahku.web.id